RUTENG — Tagar #PocoLikang ramai menghiasi beranda Facebook, TikTok, dan Instagram dalam beberapa pekan terakhir. Warganet Manggarai berbondong-bondong membagikan foto, video, hingga cerita perjalanan menuju salah satu puncak tertinggi di Pulau Flores tersebut.
Poco Likang merupakan kawasan pegunungan dan hutan yang berada di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Lokasinya berbatasan dengan wilayah Mano dan menjadi salah satu jalur favorit bagi pendaki yang ingin menikmati panorama alam dari ketinggian.
Dengan elevasi sekitar 2.370 meter di atas permukaan laut, Poco Likang dikenal sebagai salah satu puncak tertinggi di Flores.
Kawasan ini menawarkan udara dingin, hamparan hutan pegunungan, serta pemandangan yang membentang luas ke berbagai wilayah di Flores.
Popularitas Poco Likang meningkat setelah banyak konten wisata yang beredar di media sosial. Foto jalur pendakian yang dipenuhi pepohonan berlumut tebal menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pemburu konten digital.
Nuansa hutan yang lembap dan dipenuhi lumut menciptakan suasana yang kerap disebut menyerupai dunia fantasi.
Tidak sedikit pendaki yang menjadikan lokasi ini sebagai spot fotografi alam karena lanskapnya yang unik dan jarang ditemukan di tempat lain.
Dari puncak Poco Likang, pengunjung dapat menyaksikan siluet Gunung Inerie di Kabupaten Ngada. Saat cuaca cerah, bentangan pegunungan Flores dan lautan awan terlihat jelas dari ketinggian.
Fenomena alam yang muncul pada akhir Mei 2026 turut mendorong meningkatnya perhatian publik terhadap Poco Likang.
Saat itu, embun es dilaporkan muncul di kawasan puncak setelah suhu udara turun hingga sekitar 12 derajat Celsius akibat pengaruh angin monsun timur dari Australia.
Rumput dan vegetasi di sekitar puncak tampak memutih akibat lapisan embun beku. Fenomena yang jarang terjadi di wilayah tropis tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan luas di media sosial.
Akun Facebook Om Ethok menjadi salah satu pengguna yang turut mempopulerkan destinasi ini.
Dalam unggahannya, ia menggambarkan Poco Likang sebagai tempat yang menyimpan keindahan luar biasa setelah perjuangan pendakian selama beberapa jam.
“Viral di TikTok, viral di FB, tapi 99 persen orang Manggarai cuma lihat lewat HP. Ruteng tidak cuma dingin. Ruteng nyimpan rahasia. Namanya Poco Likang,” tulisnya.
Melalui unggahan yang sama, Om Ethok juga mengingatkan para pendaki untuk menjaga kelestarian kawasan pegunungan tersebut.
Ia meminta pengunjung memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi serta membawa turun seluruh sampah yang dihasilkan selama pendakian.
Pesan serupa juga muncul dalam unggahan akun Facebook Heldyye Anastasyyaa. Ia menyebut Poco Likang sedang menjadi destinasi yang paling banyak dibicarakan masyarakat Manggarai.
Menurut dia, periode November hingga April menjadi waktu yang menarik untuk berkunjung karena wisatawan berpeluang menemukan danau musiman yang terbentuk di kawasan puncak. Kehadiran danau tersebut disebut menambah nilai estetika bagi foto dan video yang dihasilkan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi cuaca di pegunungan tetap perlu diperhatikan. Jalur pendakian pada musim hujan cenderung lebih licin dibandingkan musim kemarau.
Terlepas dari musim kunjungan, suhu udara di kawasan puncak dikenal cukup dingin sepanjang tahun. Kondisi inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama Poco Likang bagi para pencinta alam.
Meningkatnya perhatian publik di media sosial menunjukkan bahwa Poco Likang mulai bertransformasi dari destinasi yang sebelumnya hanya dikenal kalangan pendaki menjadi salah satu ikon wisata alam baru di Manggarai.
Perpaduan jalur pendakian yang eksotis, panorama pegunungan Flores, fenomena embun es, serta promosi organik dari para pengguna media sosial menjadikan Poco Likang semakin diperhitungkan sebagai tujuan wisata alam unggulan di Nusa Tenggara Timur.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







