Buntut Sengketa Lahan Pantai Nggoer, Oknum Polisi F Diperiksa 8 Jam di Polres Mabar

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar—Saat mobil Toyota Terios hitam bernomor polisi EB 1819 GC yang ditumpangi Oknum Polisi F meninggalkan lokasi Mapolres Manggarai Barat, Sabtu Petang.

Gambar—Saat mobil Toyota Terios hitam bernomor polisi EB 1819 GC yang ditumpangi Oknum Polisi F meninggalkan lokasi Mapolres Manggarai Barat, Sabtu Petang.

LABUAN BAJO – Penyidik Ditreskrimum Polda NTT memeriksa secara intensif seorang anggota kepolisian berinisial F di Mapolres Manggarai Barat pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Pemeriksaan yang berlangsung di Ruang Unit Pidum Satreskrim itu berkaitan dengan sengketa lahan di kawasan Pantai Nggoer, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo.

Pantauan bajoupdate.com, F mulai masuk ke ruang pemeriksaan sekitar pukul 10.00 WITA dan baru keluar menjelang malam, tepatnya pukul 18.06 WITA.

Delapan jam lamanya F harus berhadapan dengan penyidik untuk mengklarifikasi keterlibatannya dalam konflik lahan yang kini mencuat ke publik itu.

Usai diperiksa, F yang mengenakan kaos berkerah motif hitam putih tampak tergesa-gesa menuju area parkir.

Ia memilih keluar melalui pintu samping utara, diduga menghindari kerumunan wartawan yang sedari pagi menunggu di pintu utama.

F langsung memacu mobil Toyota Terios hitam bernomor polisi EB 1819 GC meninggalkan lokasi Mapolres Manggarai Barat.

Baca Juga:  Desa Wae Codi Paling Terdampak Gempa 7,7 M: Tanpa Listrik, Rumah Hancur, Sawah Tertimbun Longsor

Nama F menjadi sorotan karena klaim keterlibatannya dalam proses mediasi lahan di Pantai Nggoer yang kini dipersoalkan warga.

Melansir pemberitaan Flores Pikiran Rakyat.com, F berdalih hanya menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas di Desa Golo Mori pada tahun 2022.

Ia membantah ikut campur dalam pengumpulan tanda tangan administrasi lahan yang diklaim oleh pihak tertentu.

Namun, pengakuan F tersebut justru memicu reaksi keras dari warga setempat yang merasa ada kebohongan.

Laporan infotimur.id menyebutkan bahwa warga menduga F baru menjabat sebagai Bhabinkamtibmas di Golo Mori selama sebulan pada tahun 2024.

“Tidak benar kalau disebut dia menjabat di sini pada 2022,” tegas Abdul, salah satu warga Golo Mori, seperti dikutip dari infotimur.id.

Konflik lahan seluas 6,2 hektare ini bermula dari klaim kepemilikan oleh tiga orang: Samaele, Muhamad Yasin, dan Iksan.

Baca Juga:  "Siapa Pencuri Tanah Negara?" Fery Adu Pimpin Ratusan Warga Kepung Kantor BPN dan Kejaksaan Mabar

Samaele bersikeras bahwa tanah tersebut bukan milik 18 ahli waris, melainkan milik pribadi mereka bertiga.

Ia mengaku mendapatkan lahan itu dari fungsionaris adat Lo’ok bernama Sawa pada tahun 2005 silam.

Ironisnya, pernyataan Samaele itu dibantah telak oleh Sawa sendiri.

Sawa menegaskan kawasan Muara Nggoer adalah warisan leluhur milik 18 warga, bukan milik perorangan.

Sawa bahkan merasa dimanipulasi dalam urusan surat-menyurat lahan tersebut.

“Saya dijebak. Saya tidak bisa membaca dan menulis, bagaimana mungkin saya mengeluarkan surat?” ungkap Sawa kepada media.

Di sisi lain, Muhamad Yasin justru melontarkan keterangan yang kontradiktif dengan Samaele.

Yasin menyebut tanah itu tetap milik 18 ahli waris, namun mereka bertiga diberi kuasa untuk urusan administrasi dan penjualan.

Baca Juga:  Tertimbun Sejak Kamis, Jasad Lusia Resen Berhasil Dievakuasi dari Material Longsor di Lambaleda

Kegaduhan makin meruncing saat muncul selisih luas lahan hasil pengukuran resmi Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Lahan yang awalnya diperkirakan hanya 4,2 hektare, ternyata membengkak menjadi 6,2 hektare.

“Kelebihan sekitar 2,2 hektare inilah yang memicu kegaduhan sekarang,” ujar Yasin.

Persoalan tak berhenti di situ. Transparansi aliran uang dalam transaksi lahan ini juga menyisakan tanda tanya besar.

Total nilai transaksi lahan tersebut diduga fantastis, mencapai Rp31 miliar.

Namun, 18 ahli waris kabarnya hanya mendapatkan jatah total Rp2 miliar.

Salah satu ahli waris, Muhamad Nor, mengaku hanya menerima bagian sebesar Rp10 juta dari nilai transaksi jumbo tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Ditreskrimum Polda NTT belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil pemeriksaan terhadap F.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari
Bawa Pesan Edi Endi, NasDem Bagikan 100 Terpal untuk Warga Welak Terdampak Gempa
Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica
Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur
Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar
Jerat Berulang Itok Aman: Tipu Turis Italia Rp79 Juta, Terancam 4 Tahun Penjara
Jessica Belum Ditemukan, Operasi SAR KM Feronia Diperpanjang
Langit Labuan Bajo Diselimuti ‘Haze’, BMKG Buka Suara Soal Dugaan Kiriman Asap Karhutla

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:21

Gandeng FORKOMA, Forum Peduli Mabar Gelar Pelatihan Jurnalistik Dua Hari

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:36

Bawa Pesan Edi Endi, NasDem Bagikan 100 Terpal untuk Warga Welak Terdampak Gempa

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:33

Operasi KM Feronia Berakhir Tanpa Jejak Veronica Beatrix Jessica

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:43

Penjelasan Polisi terkait Penemuan Mayat yang Terbakar di Perkebunan Warga Manggarai Timur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 19:26

Geger, Warga Kembur Borong Temukan Mayat dengan Kondisi Terbakar

Berita Terbaru