Tragedi Ngada: Luka Pendidikan NTT, Hasanudin Sebut “Negara Gagal Hadir di Tas Sekolah Anak”

- Redaksi

Rabu, 4 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasanudin, Ketua DPD Perindo Manggarai Barat sekaligus Anggota DPRD

Hasanudin, Ketua DPD Perindo Manggarai Barat sekaligus Anggota DPRD

LABUAN BAJO – Kematian tragis seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku tulis, memicu gelombang kritik pedas terhadap sistem perlindungan sosial dan pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tragedi ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa kemiskinan struktural masih menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi masa depan generasi bangsa.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten Manggarai Barat yang juga anggota DPRD Manggarai Barat, Hasanudin, angkat bicara dengan nada getir sekaligus geram.

Menurutnya, peristiwa di Ngada bukan sekadar musibah biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi wajah pemerintah daerah di seluruh NTT.

Buku Tulis yang Menjadi “Tali Gantung” Pendidikan

Hasanudin menilai, sangat ironis ketika di tengah narasi besar tentang transformasi digital dan kemajuan pendidikan, masih ada anak yang merasa dunianya runtuh hanya karena tidak memiliki buku dan pena.

Ia menyebut kasus ini sebagai kegagalan sistemik dalam mendeteksi kerentanan warga paling bawah.

“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat hati. Ketika selembar buku tulis berubah menjadi beban yang begitu berat hingga seorang bocah berusia 10 tahun memilih menyerah pada hidup, itu artinya negara gagal hadir di dalam tas sekolah anak-anak kita. Pendidikan yang seharusnya memerdekakan, justru menjadi ‘tali gantung’ yang mencekik mental anak karena tekanan ekonomi,” tegas Hasanudin di Labuan Bajo, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga:  APBD Habis untuk Birokrasi, DPRD Manggarai Barat Diminta Tak Asal Ketok Palu KUA-PPAS 2027

Ironi Proyek Fisik di Tengah Kelaparan Literasi

Sebagai anggota legislatif, Hasanudin mengkritik tajam prioritas anggaran yang sering kali lebih condong pada pembangunan infrastruktur fisik yang megah, namun abai pada jaminan kesejahteraan dasar siswa dan guru di pelosok.

Ia mendesak adanya reorientasi anggaran pendidikan yang lebih menyentuh akar rumput.

“Kita sering terjebak pada angka-angka statistik dan laporan administratif yang tampak indah di atas kertas. Kita bangga membangun gedung-gedung, tapi kita lupa membangun jiwa dan rasa aman anak-anak. Jangan sampai anggaran daerah habis untuk perjalanan dinas atau proyek fisik, sementara di sudut desa, ada anak yang menangis karena tidak tahu besok bisa menulis pakai apa. Ini dosa kolektif kita,” cetusnya dengan nada menukik.

Baca Juga:  MotoGP Mandalika 2026 Siap Digelar, Indonesia Bidik Sorotan Dunia

Guru: Perawat Luka yang Kehilangan Alat

Hasanudin juga menyoroti beban guru yang kian berat. Ia menilai guru adalah orang pertama yang seharusnya mampu membaca tanda-tanda depresi atau kesulitan siswa, namun mereka sendiri seringkali kehabisan napas karena beban administrasi dan kesejahteraan yang minim.

“Guru adalah garda terdepan, mereka adalah ‘perawat’ bagi luka-luka sosial yang dibawa siswa ke sekolah. Tapi bagaimana guru bisa menjaga kesehatan mental siswanya jika mereka sendiri dibebani urusan administrasi yang mencekik dan gaji yang seringkali tak cukup untuk hidup layak? Negara harus memberikan ruang bagi guru untuk kembali pada khitahnya: mendidik manusia, bukan sekadar mengejar target kurikulum,” jelas Hasanudin.

Manggarai Barat Harus Pasang Badan: Deteksi Dini adalah Harga Mati

Belajar dari kasus di Ngada, Hasanudin meminta Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk segera mengevaluasi mekanisme pengawasan terhadap siswa dari keluarga rentan. Ia tidak ingin tragedi serupa terjadi di wilayahnya.

Baca Juga:  Polisi Gagalkan Dugaan Penipuan Travel di Labuan Bajo, 4 Turis Bali Lolos dari Kerugian

“Saya mendesak Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial di Manggarai Barat untuk tidak menunggu bola. Buat mekanisme deteksi dini. Sekolah harus punya data presisi, mana siswa yang tidak mampu beli alat tulis, mana yang makannya tidak cukup. Jangan biarkan guru dan siswa berjuang sendirian. Kita harus pasang badan agar sekolah menjadi ruang paling aman, bukan tempat yang menakutkan bagi anak-anak miskin,” pungkasnya.

Tragedi Ngada kini menjadi refleksi kelam bagi seluruh pemangku kepentingan di NTT. Hasanudin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari megahnya gedung sekolah, melainkan dari seberapa mampu sistem tersebut merangkul anak-anak yang paling lemah dan paling rentan agar tetap memiliki harapan untuk hari esok.

 

DISCLAIMER : Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, merasa depresi, atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, jangan menanggungnya sendirian. Segera cari bantuan profesional, hubungi psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat. Percayalah, selalu ada jalan keluar dan harapan bagi setiap persoalan hidup.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Dilantik Muhaimin, Sewargading Ditarget Bawa PKB Manggarai Barat Menang di 2029
Kronologi Kecelakaan Pikap vs Xpander di Labuan Bajo, Tak Ada Korban Jiwa
Kesbangpol Manggarai Barat Kirim Dua Wakil Paskibraka ke Kupang, Ini Tahapannya
Workshop Bambu Masuk Sekolah Warnai Peringatan Hari Anak Nasional di Nagekeo
Kecelakaan Xpander vs Pikap di Merombok, Korban Dilarikan ke RS
Jaringan Apotek K-24 Ekspansi ke Labuan Bajo
Dua Tahun BERES KIS: Siasat Puskesmas Lawir Atasi Penundaan Berobat Warga di 11 Desa
PDAM Wae Mbeliling Pastikan Suplai Air Parapuar Penuhi Standar Pariwisata

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 15:43

Dilantik Muhaimin, Sewargading Ditarget Bawa PKB Manggarai Barat Menang di 2029

Senin, 27 Juli 2026 - 15:04

Kronologi Kecelakaan Pikap vs Xpander di Labuan Bajo, Tak Ada Korban Jiwa

Senin, 27 Juli 2026 - 12:55

Kesbangpol Manggarai Barat Kirim Dua Wakil Paskibraka ke Kupang, Ini Tahapannya

Senin, 27 Juli 2026 - 09:01

Workshop Bambu Masuk Sekolah Warnai Peringatan Hari Anak Nasional di Nagekeo

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:06

Jaringan Apotek K-24 Ekspansi ke Labuan Bajo

Berita Terbaru