RUTENG — Sebelas ribu gempa susulan telah mengguncang Flores sejak pertengahan Agustus 2026 lalu. Di Manggarai, rentetan guncangan itu tak hanya meremukkan dinding rumah warga, tetapi juga memaksa mereka tidur kedinginan di bawah terpal reyot.
Kamis (3/9/2026) pagi, Sudirman Patang (47) dibantu oleh kerabat dan beberapa tetangganya sibuk memancang batang-batang kayu di samping rumahnya.
Bukan untuk membangun rumah baru, kayu-kayu itu digunakan sebagai tongkat penopang agar rumahnya di Dusun Cekok, Desa Wae Codi, Kecamatan Cibal Barat tak ambruk rata dengan tanah.
Rumah Sudirman adalah tipe bangunan setengah tembok. Bagian bawahnya setinggi satu meter berupa semen batu bata, sedangkan bagian atasnya disambung dengan material kayu-papan beratap seng.
Kini, bangunan itu miring dan ringkih. Dinding bagian baratnya rusak paling parah akibat guncangan bumi yang tak kunjung jeda.
“Inisiatif sendiri dan dibantu keluarga serta tetangga. Dinding sudah goyang, kalau ada gempa susulan lagi bisa roboh, makanya pakai tongkat,” keluh Sudirman.
Kehancuran ini bermula pada 15 Agustus lalu, saat gempa utama bermagnitudo 7,7 menghantam Flores.
Sudirman masih ingat betul kepanikan pagi itu. Sekitar pukul 5 pagi, saat seluruh keluarganya terlelap, bumi tiba-tiba berguncang hebat.
“Begitu gempa kami semua lari keluar rumah. Saya lihat bagian setengah yang semen ini, dinding bagian bawah, sudah mulai retak,” kenangnya.
Retakan itu hanyalah permulaan. Gempa-gempa susulan berskala besar yang datang bertubi-tubi pada hari-hari berikutnya akhirnya melumpuhkan struktur rumahnya.
Kini, Sudirman dan keluarganya tak berani lagi masuk ke dalam. Mereka memilih tidur di halaman depan, tepat di bawah bayang-bayang rumah mereka yang nyaris roboh.
Sebuah tenda darurat didirikan seadanya. Mirisnya, terpal pelindung mereka sudah rusak, dan alas tidur hanyalah tikar-tikar bekas.
“Yang sulit itu kalau malam hari, dingin. Apalagi anak-anak ini,” tutur Sudirman lirih.
Menatap rumah yang disangga kayu membawa tekanan psikologis tersendiri. “Trauma tentu masih hingga detik ini. Takutnya langsung roboh karena gempa terus,” tambahnya.
Sudirman mengaku, pihak Pemerintah Desa memang telah melakukan pendataan awal. Masalahnya, itu dilakukan saat hari-hari pertama gempa M7,7.
Kini, ketika rumahnya makin hancur akibat gempa susulan dan nyaris rata dengan tanah, belum ada pembaruan data yang menjanjikan bantuan riil.
“Sudah rusak parah begini, seharusnya datanya bisa dirubah. Harapan saya, semoga pemerintah benar-benar hadir dan melakukan pendataan ulang. Apalagi gempa ini kita tidak tahu kapan berakhir,” kata Sudirman penuh harap.
Kebutuhan paling mendesak warga saat ini bukanlah hal yang muluk-muluk. Mereka hanya butuh tempat berlindung sementara yang layak. Namun, bantuan sekadar terpal pun macet.
“Sampai hari ini juga kami belum mendapatkan terpal. Adapun dari pemerintah, itu hanya satu untuk banyak orang di komplek ini,” keluhnya menutup percakapan.
Ancaman Merata dan Bumi yang Terus Bergetar
Apa yang dialami Sudirman bukanlah kasus tunggal. Tak jauh dari rumah Sudirman, rumah setengah tembok-kayu milik Honorius Linga (55) juga mulai retak-retak di berbagai sisi dindingnya.
Satu guncangan kuat lagi, rumah Honorius bisa bernasib sama dengan rumah Sudirman. Selain itu rumah milik Florianus Adi juga dalam kondisi rusak parah. Bangunan tembok tersebut kini tak lagi bisa dihuni.

Kepala Desa Wae Codi, Bonefasius Sel, sebelumnya mencatat ratusan rumah warganya mengalami kerusakan parah, sedang, maupun ringan.
Kecemasan warga Manggarai sangat beralasan. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bumi Flores memang belum berhenti bergetar.
Hingga Rabu (2/9/2026) pukul 12.00 WITA, BMKG mencatat angka yang fantastis: 11.270 gempa susulan (aftershock) pascagempa M7,7.
“Total gempa bumi susulan mencapai 11.270 kali kejadian,” tegas Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo, Maria Patrycia Christin Seran.
Magnitudonya bervariasi, dari guncangan tak terasa sebesar M0,9 hingga yang merusak di angka M6,2. Setidaknya, 36 dari belasan ribu gempa tersebut memiliki kekuatan di atas M5,0.
Maria menjelaskan, meski angkanya belasan ribu, hanya 165 kejadian gempa yang dirasakan langsung oleh manusia dalam skala Modified Mercalli Intensity (MMI).
Mayoritas murni hanya terekam seismograf.
Namun, bukan berarti ancaman mereda. Memasuki hari ke-19, lempeng masih bergeser. Sepanjang 2 September 2026 saja, terjadi 85 kali gempa susulan.
Satu gempa susulan terbaru berskala M4,3 mengguncang pada Rabu siang pukul 14.06 WITA. Berpusat di kedalaman dangkal 11 kilometer, episenternya berada persis di darat—41 kilometer Timur Laut Ruteng, Manggarai. Guncangannya terasa nyata. BMKG mencatat gempa ini dirasakan pada skala IV MMI di Manggarai. Artinya, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, jendela dan pintu berderik, serta dinding berbunyi.
Penulis : Tim Bajoupdate
Editor : Fons Abun






