Berdiri Paling Tegar di Atas Kaki yang Tertatih: Kisah Siprianus Menjadi Jembatan Harapan Korban Gempa

- Redaksi

Selasa, 1 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siprianus Jedeo, saat menyerahkan bantuan di kampung halamannya di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Siprianus Jedeo, saat menyerahkan bantuan di kampung halamannya di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

LABUAN BAJO Di balik langkah pincang yang tertatih di jalanan berbatu Labuan Bajo, Siprianus Jedeo menahan panas matahari yang membakar kulitnya. Setiap hari, pria asal Sampek, Manggarai Timur itu berjalan menyusuri sudut kota, menawarkan jasa pijat keliling. Suaranya tidak pernah fasih, sering tersendat, kadang hanya berupa gumaman yang sulit dimengerti.

Tapi tangan—tangannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan itu tetap setia menekan otot-otot lelah orang asing demi sepiring nasi.

Tapi pada satu malam, ketika berita gempa mengguncang kampung halamannya, Siprianus terdiam. Guncangan itu tidak hanya merobohkan rumah-rumah di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Siprianus Jedeo, saat menyerahkan bantuan di kampung halamannya di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Guncangan itu juga meruntuhkan sesuatu di dalam dadanya. Ia ingat ibu-ibu tua yang dulu memijat punggungnya saat ia kecil. Ia ingat anak-anak yang berlarian di antara puing-puing. Ia tidak bisa berlari ke sana—kakinya tak akan sanggup. Ia tidak bisa berteriak meminta tolong—lidahnya tak akan lancar. Tapi hatinya bisa berdetak lebih keras dari siapa pun.

Baca Juga:  Tak Sengaja Melintas, KDM Beri ‘Hadiah’ untuk Penjual Bensin Botolan di Labuan Bajo

Malam itu, Siprianus duduk di pojok losmen kecil tempatnya menginap. Dengan tangan gemetar, ia menulis pesan pendek di secarik kertas bekas bungkus roti: “Saya Siprianus. Saya cacat. Saya buka donasi untuk korban gempa di kampung saya. Tolong bantu.” Ia tidak tahu apakah kata-katanya cukup.

Ia tidak tahu apakah orang-orang akan percaya pada lelaki pincang dengan bicara ngaco ini. Tapi ia tetap membuka kotak kayu bekas tempat ia menyimpan uang hasil pijat, lalu ia tulis nomor rekeningnya dengan tinta yang hampir habis.

Perlahan, orang-orang mulai melihat. Bukan karena ia pandai bicara, tapi karena ia tulus. Seorang turis asing menepuk pundaknya. Seorang ibu-ibu pedagang di pasar memberinya uang receh sambil menangis. Anak kecil yang sering ia pijat lehernya menyelipkan uang saku.

Baca Juga:  Renyah di Mulut, Manis di Kenangan: Kisah dari Theresa Bakery Labuan Bajo
Siprianus Jedeo, saat menyerahkan bantuan di kampung halamannya di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Donasi itu tidak besar, tetapi cukup untuk membeli sembako, terpal, dan obat-obatan luka. Dan ketika jumlahnya mulai cukup, Siprianus tidak menunggu. Ia memaksakan kaki pincangnya naik ke mobil bak terbuka yang akan menuju ke Kampung Maki.

Perjalanan berjam-jam di jalan bergelombang, tubuhnya tersungkur setiap kali ban tersendak. Ia muntah karena kelelahan. Tapi ia tidak mengeluh.

Ketika akhirnya tiba di kampung yang porak-poranda, matanya berkaca-kaca. Ia melihat sisa-sisa rumah yang runtuh, melihat anak-anak yang ketakutan, melihat ibunya sendiri—yang masih hidup tetapi lemas dalam pelukan tetangga.

Dengan langkah limbung, Siprianus menyerahkan bantuan itu. Bukan dengan pidato. Bukan dengan air mata yang dipamerkan. Ia hanya meletakkan karung-karung beras di depan kepala desa, lalu menyerahkan amplop berisi uang sisa donasi.

Baca Juga:  Pemkab Manggarai Timur dan DP2KBP3A Turun Tangan Bantu Korban Gempa Wela Lada

Suaranya terbata-bata: “Ini… dari orang-orang… baik… yang percaya sama saya.” Ia tersenyum, meski bibirnya bergetar. Ia menangis, tapi ia tidak malu.

Kampung itu tidak hanya menerima beras dan terpal. Kampung itu menerima bukti bahwa seorang disabilitas yang sehari-hari dipandang lemah ternyata bisa menjadi jembatan kasih. Bahwa kaki pincang tetap bisa berdiri untuk membantu. Bahwa lidah yang gagap tetap bisa menyuarakan harapan.

Siprianus Jedeo, saat menyerahkan bantuan di kampung halamannya di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.

Sore itu, saat matahari mulai merah di ujung Manggarai Timur, Siprianus duduk di atas batu di pinggir desa. Ia melihat anak-anak mulai bermain lagi. Ia melihat ibu-ibu memasak nasi dari donasi yang ia bawa. Dan dalam diam, ia berdoa dalam hatinya—dengan kata-kata yang hanya ia dan Tuhan yang mengerti:

“Aku mungkin lemah. Tapi hari ini, aku telah memberi.”

Langit senja mendung menutupi kampung itu. Tapi di dalam dada Siprianus, ada cahaya yang tak pernah padam. Cahaya yang lahir dari luka, tumbuh dari keterbatasan, dan bersinar dari kasih yang tidak pernah memandang cacat.

Penulis : Gonza

Editor : Tim Bajoupdate

Berita Terkait

Jejak Kemanusiaan di Pelosok Manggarai Barat: Saat Polisi Merawat Luka Penyintas Gempa
Verry Klau Kaget Lagu “Lu Kenal Veronika Ko” Viral: Musiknya dari Kecerdasan Buatan
Menakar Makna Jabat Tangan Mario-Richard dan Yono, Pengguna FB: ‘Foto Termahal 2026’
Sosok Yono Jehanu: Pemimpin “Petarung” dari Batu Cermin, Bangun Kantor Pakai Uang Pribadi hingga Hidupkan Tarkam
Ino Peni: Dari Juru Parkir ke Pucuk PAN

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 12:22

Berdiri Paling Tegar di Atas Kaki yang Tertatih: Kisah Siprianus Menjadi Jembatan Harapan Korban Gempa

Minggu, 30 Agustus 2026 - 13:59

Jejak Kemanusiaan di Pelosok Manggarai Barat: Saat Polisi Merawat Luka Penyintas Gempa

Kamis, 23 April 2026 - 13:31

Verry Klau Kaget Lagu “Lu Kenal Veronika Ko” Viral: Musiknya dari Kecerdasan Buatan

Minggu, 5 April 2026 - 23:03

Menakar Makna Jabat Tangan Mario-Richard dan Yono, Pengguna FB: ‘Foto Termahal 2026’

Selasa, 24 Maret 2026 - 20:53

Sosok Yono Jehanu: Pemimpin “Petarung” dari Batu Cermin, Bangun Kantor Pakai Uang Pribadi hingga Hidupkan Tarkam

Berita Terbaru