LABUAN BAJO — Di balik langkah pincang yang tertatih di jalanan berbatu Labuan Bajo, Siprianus Jedeo menahan panas matahari yang membakar kulitnya. Setiap hari, pria asal Sampek, Manggarai Timur itu berjalan menyusuri sudut kota, menawarkan jasa pijat keliling. Suaranya tidak pernah fasih, sering tersendat, kadang hanya berupa gumaman yang sulit dimengerti.
Tapi tangan—tangannya berbicara lebih keras daripada kata-kata. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan itu tetap setia menekan otot-otot lelah orang asing demi sepiring nasi.
Tapi pada satu malam, ketika berita gempa mengguncang kampung halamannya, Siprianus terdiam. Guncangan itu tidak hanya merobohkan rumah-rumah di Kampung Maki, Desa Satar Rampas, Kecamatan Lamba Leda Utara.

Guncangan itu juga meruntuhkan sesuatu di dalam dadanya. Ia ingat ibu-ibu tua yang dulu memijat punggungnya saat ia kecil. Ia ingat anak-anak yang berlarian di antara puing-puing. Ia tidak bisa berlari ke sana—kakinya tak akan sanggup. Ia tidak bisa berteriak meminta tolong—lidahnya tak akan lancar. Tapi hatinya bisa berdetak lebih keras dari siapa pun.
Malam itu, Siprianus duduk di pojok losmen kecil tempatnya menginap. Dengan tangan gemetar, ia menulis pesan pendek di secarik kertas bekas bungkus roti: “Saya Siprianus. Saya cacat. Saya buka donasi untuk korban gempa di kampung saya. Tolong bantu.” Ia tidak tahu apakah kata-katanya cukup.
Ia tidak tahu apakah orang-orang akan percaya pada lelaki pincang dengan bicara ngaco ini. Tapi ia tetap membuka kotak kayu bekas tempat ia menyimpan uang hasil pijat, lalu ia tulis nomor rekeningnya dengan tinta yang hampir habis.
Perlahan, orang-orang mulai melihat. Bukan karena ia pandai bicara, tapi karena ia tulus. Seorang turis asing menepuk pundaknya. Seorang ibu-ibu pedagang di pasar memberinya uang receh sambil menangis. Anak kecil yang sering ia pijat lehernya menyelipkan uang saku.

Donasi itu tidak besar, tetapi cukup untuk membeli sembako, terpal, dan obat-obatan luka. Dan ketika jumlahnya mulai cukup, Siprianus tidak menunggu. Ia memaksakan kaki pincangnya naik ke mobil bak terbuka yang akan menuju ke Kampung Maki.
Perjalanan berjam-jam di jalan bergelombang, tubuhnya tersungkur setiap kali ban tersendak. Ia muntah karena kelelahan. Tapi ia tidak mengeluh.
Ketika akhirnya tiba di kampung yang porak-poranda, matanya berkaca-kaca. Ia melihat sisa-sisa rumah yang runtuh, melihat anak-anak yang ketakutan, melihat ibunya sendiri—yang masih hidup tetapi lemas dalam pelukan tetangga.
Dengan langkah limbung, Siprianus menyerahkan bantuan itu. Bukan dengan pidato. Bukan dengan air mata yang dipamerkan. Ia hanya meletakkan karung-karung beras di depan kepala desa, lalu menyerahkan amplop berisi uang sisa donasi.
Suaranya terbata-bata: “Ini… dari orang-orang… baik… yang percaya sama saya.” Ia tersenyum, meski bibirnya bergetar. Ia menangis, tapi ia tidak malu.
Kampung itu tidak hanya menerima beras dan terpal. Kampung itu menerima bukti bahwa seorang disabilitas yang sehari-hari dipandang lemah ternyata bisa menjadi jembatan kasih. Bahwa kaki pincang tetap bisa berdiri untuk membantu. Bahwa lidah yang gagap tetap bisa menyuarakan harapan.

Sore itu, saat matahari mulai merah di ujung Manggarai Timur, Siprianus duduk di atas batu di pinggir desa. Ia melihat anak-anak mulai bermain lagi. Ia melihat ibu-ibu memasak nasi dari donasi yang ia bawa. Dan dalam diam, ia berdoa dalam hatinya—dengan kata-kata yang hanya ia dan Tuhan yang mengerti:
“Aku mungkin lemah. Tapi hari ini, aku telah memberi.”
Langit senja mendung menutupi kampung itu. Tapi di dalam dada Siprianus, ada cahaya yang tak pernah padam. Cahaya yang lahir dari luka, tumbuh dari keterbatasan, dan bersinar dari kasih yang tidak pernah memandang cacat.
Penulis : Gonza
Editor : Tim Bajoupdate






