LABUAN BAJO — Gempa susulan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus berlangsung usai gempa utama bermagnitudo 7,7. Hingga Rabu (2/9/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat belasan ribu kali gempa susulan (aftershock).
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Labuan Bajo, Maria Patrycia Christin Seran, mengonfirmasi data mutakhir tersebut. Rekapitulasi ini dihimpun hingga pukul 12.00 WITA.
“Total gempa bumi susulan mencapai 11.270 kali kejadian,” kata Maria, Rabu (2/9/2026).
Data BMKG merinci, rentang kekuatan gempa susulan bervariasi. Magnitudo terkecil berada di angka M0,9, sedangkan yang terbesar mencapai M6,2.

Dari belasan ribu kejadian tersebut, tercatat ada 36 gempa dengan magnitudo di atas M5,0.
Maria menjelaskan, dari 11.270 gempa susulan, hanya sebagian kecil yang berdampak langsung pada warga. Total hanya ada 165 kejadian gempa yang dirasakan.
Artinya, tidak semua guncangan dirasakan oleh manusia dalam skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Mayoritas gempa bermagnitudo kecil murni hanya terekam oleh seismograf BMKG.
Memasuki hari ke-19 pascagempa utama, aktivitas lempeng masih menunjukkan pergerakan. Khusus pada 2 September 2026, telah terjadi 85 kali gempa susulan.
Dari 85 guncangan yang terjadi sepanjang hari ini, baru satu gempa yang dirasakan langsung oleh warga.
Gempa tersebut tercatat pada pukul 14.06 WITA (13.06 WIB). Gempa susulan terbaru ini memiliki magnitudo 4,3. Episenter gempa berlokasi di darat, tepatnya 41 kilometer Timur Laut Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Titik koordinat gempa berada di 8.28 Lintang Selatan dan 120.61 Bujur Timur. Pusat guncangan berada pada kedalaman dangkal, yakni 11 kilometer.
Guncangan gempa siang ini dirasakan nyata oleh masyarakat. BMKG mencatat gempa ini dirasakan pada skala IV MMI di wilayah Manggarai, yang berarti guncangan dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate






