Data BNPB Dinilai Jauh dari Fakta, DPRD Manggarai Desak Pemda Kebut Pendataan Gempa

- Redaksi

Minggu, 16 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi rumah terdampak gempa bumi milik Gabriel Ampong di Golowoi, Desa Golowoi, Kecamatan Cibal Barat.

Kondisi rumah terdampak gempa bumi milik Gabriel Ampong di Golowoi, Desa Golowoi, Kecamatan Cibal Barat.

RUTENG Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Arlan Nala, mendesak pemerintah daerah setempat segera menginstruksikan para camat dan kepala desa untuk mempercepat pendataan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7.

Politikus Partai Demokrat ini menilai data sementara yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8/2026) pagi belum mencerminkan kondisi kerusakan riil di lapangan.

Berdasarkan data awal BNPB, tercatat hanya 346 unit rumah yang rusak pascagempa Sabtu (15/8/2026).

Rinciannya meliputi 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan.

“Saya yakin jumlah ini jauh lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya. Keyakinan ini tentu berdasarkan fakta lapangan,” kata Arlan dalam pernyataan resminya, Minggu (16/8/2026).

Arlan mengambil contoh kondisi di Desa Golowoi, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Di wilayah tersebut, nyaris seluruh bangunan rumah warga terdampak guncangan gempa.

Baca Juga:  Bupati Edi Endi Kawal Program Prioritas Prabowo di Mabar

“Puluhan yang rusak parah, ratusan yang rusak sedang, yang lainnya rusak ringan. Hanya satu atau dua rumah saja yang tidak terdampak. Hal serupa juga terjadi di desa-desa lainnya,” tegasnya.

Untuk mencegah kesimpangsiuran, Arlan meminta Pemda Manggarai jemput bola dengan menagih laporan resmi dari pemerintah desa.

Langkah ini dinilai krusial untuk mempermudah validasi sekaligus memperkuat akurasi data kerusakan bangunan.

“Hal ini bertujuan agar pemerintah pusat memperoleh data yang cepat dan tepat, sehingga bisa segera mengambil langkah penanganan,” ujar Arlan.

Di luar masalah pendataan, Arlan juga menyoroti kondisi darurat para penyintas gempa. Berdasarkan banyaknya laporan yang ia terima, warga saat ini sangat membutuhkan bantuan pangan.

Baca Juga:  Soal Skema PLN Tagih Utang Lewat Mati Meteran Listrik, DPRD Desak Bupati Segera Turun Tangan

Ketakutan akan gempa susulan memaksa warga di setiap kampung mendirikan tenda-tenda darurat untuk mengungsi. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lumpuh total.

“Kebutuhan pokok seperti makan dan minum yang tersedia mulai berkurang. Warga butuh bantuan makanan,” ungkapnya.

Selain itu, dua wilayah yang terdampak paling parah adalah Desa Wae Codi dan Desa Compang Cibal di Kecamatan Cibal Barat.

Guncangan hebat yang terjadi pada pukul 05.58 WITA itu membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Florianus Adi, seorang warga Dusun Cekok, Desa Wae Codi, tengah bersiap membangunkan anaknya untuk sekolah ketika lindu terjadi.

“Tiba-tiba guncangan keras datang hingga merusak semua bangunan rumah,” ceritanya.

Baca Juga:  5 Nama Berebut Kursi Panas PKB Mabar, Siapa Bakal Terpental di Ujian Kelayakan?

Ia menambahkan bahwa rumahnya kini hancur total dan tak bisa lagi ditempati.

“Beruntung kami sekeluarga selamat. Kerugian sangat besar sekali, bisa dibilang ratusan juta, karena rumah tak bisa digunakan lagi,” kata Florianus.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah rumah warga di Desa Wae Codi mengalami kerusakan struktural. Dinding-dinding rumah roboh dan retak parah, sementara beberapa bagian atap ambruk tak kuat menahan guncangan.

Oleh karena itu, Arlan mendesak Pemerintah Provinsi NTT, Pemda Manggarai, dan seluruh unsur pemerintahan terkait untuk bergerak lebih cepat.

Fokus utama saat ini, kata dia, adalah pemenuhan kebutuhan logistik dasar bagi ribuan warga yang masih bertahan di tenda pengungsian.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB
Gempa NTT: Dua Lansia Kritis Dievakuasi via Udara dari Manggarai Timur

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:26

Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:12

Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:25

Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17