RUTENG — Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Arlan Nala, mendesak pemerintah daerah setempat segera menginstruksikan para camat dan kepala desa untuk mempercepat pendataan warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7.
Politikus Partai Demokrat ini menilai data sementara yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8/2026) pagi belum mencerminkan kondisi kerusakan riil di lapangan.
Berdasarkan data awal BNPB, tercatat hanya 346 unit rumah yang rusak pascagempa Sabtu (15/8/2026).
Rinciannya meliputi 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan.
“Saya yakin jumlah ini jauh lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya. Keyakinan ini tentu berdasarkan fakta lapangan,” kata Arlan dalam pernyataan resminya, Minggu (16/8/2026).
Arlan mengambil contoh kondisi di Desa Golowoi, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai. Di wilayah tersebut, nyaris seluruh bangunan rumah warga terdampak guncangan gempa.
“Puluhan yang rusak parah, ratusan yang rusak sedang, yang lainnya rusak ringan. Hanya satu atau dua rumah saja yang tidak terdampak. Hal serupa juga terjadi di desa-desa lainnya,” tegasnya.
Untuk mencegah kesimpangsiuran, Arlan meminta Pemda Manggarai jemput bola dengan menagih laporan resmi dari pemerintah desa.
Langkah ini dinilai krusial untuk mempermudah validasi sekaligus memperkuat akurasi data kerusakan bangunan.
“Hal ini bertujuan agar pemerintah pusat memperoleh data yang cepat dan tepat, sehingga bisa segera mengambil langkah penanganan,” ujar Arlan.
Di luar masalah pendataan, Arlan juga menyoroti kondisi darurat para penyintas gempa. Berdasarkan banyaknya laporan yang ia terima, warga saat ini sangat membutuhkan bantuan pangan.
Ketakutan akan gempa susulan memaksa warga di setiap kampung mendirikan tenda-tenda darurat untuk mengungsi. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat lumpuh total.
“Kebutuhan pokok seperti makan dan minum yang tersedia mulai berkurang. Warga butuh bantuan makanan,” ungkapnya.
Selain itu, dua wilayah yang terdampak paling parah adalah Desa Wae Codi dan Desa Compang Cibal di Kecamatan Cibal Barat.
Guncangan hebat yang terjadi pada pukul 05.58 WITA itu membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Florianus Adi, seorang warga Dusun Cekok, Desa Wae Codi, tengah bersiap membangunkan anaknya untuk sekolah ketika lindu terjadi.
“Tiba-tiba guncangan keras datang hingga merusak semua bangunan rumah,” ceritanya.
Ia menambahkan bahwa rumahnya kini hancur total dan tak bisa lagi ditempati.
“Beruntung kami sekeluarga selamat. Kerugian sangat besar sekali, bisa dibilang ratusan juta, karena rumah tak bisa digunakan lagi,” kata Florianus.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah rumah warga di Desa Wae Codi mengalami kerusakan struktural. Dinding-dinding rumah roboh dan retak parah, sementara beberapa bagian atap ambruk tak kuat menahan guncangan.
Oleh karena itu, Arlan mendesak Pemerintah Provinsi NTT, Pemda Manggarai, dan seluruh unsur pemerintahan terkait untuk bergerak lebih cepat.
Fokus utama saat ini, kata dia, adalah pemenuhan kebutuhan logistik dasar bagi ribuan warga yang masih bertahan di tenda pengungsian.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update








