Renyah di Mulut, Manis di Kenangan: Kisah dari Theresa Bakery Labuan Bajo

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompiang Original

Kompiang Original

MATAHARI di ufuk barat Labuan Bajo mulai meredup, meninggalkan semburat jingga yang memantul di permukaan laut Flores pada akhir Desember 2025 lalu. Bagi Dimas dan Tiara, sepasang kekasih asal Jakarta, lima hari di sini terasa seperti mimpi yang terlalu singkat.

Mereka telah mendaki puncak Pulau Padar, berswafoto dengan Sang Naga di Pulau Komodo, hingga menyelami kejernihan air di Pink Beach.

“Rasanya belum mau pulang ke Jakarta, ya,” bisik Tiara saat mobil sewaan mereka melaju perlahan meninggalkan area pelabuhan Waterfront Labuan Bajo.

“Iya, tapi setidaknya kita harus bawa ‘rasa’ Bajo ke Jakarta,” jawab Dimas sambil fokus menyetir. “Kita mampir ke tempat kompiang legendaris dulu sebelum ke bandara.”

Baca Juga:  BPD Bali Culture Run 2026 Digelar di Nusa Dua, DJ Una Bakal Hibur 4.000 Pelari

Tujuan mereka adalah Theresa Bakery. Dimas mengarahkan mobil menuju daerah Wae Mata.

Toko roti ini sangat mudah ditemukan karena letaknya yang strategis, tepat di pinggir jalan utama yang menghubungkan Labuan Bajo dan Ruteng.

Begitu memarkirkan mobil, aroma harum roti yang baru matang langsung menyambut indra penciuman mereka.

Tiara tampak antusias. “Ini dia tempatnya! Kata orang, kalau ke Bajo nggak bawa Kompiang Theresa, rasanya belum lengkap.”

Mereka melangkah masuk ke dalam toko yang bersih dan hangat itu. Di balik etalase, tumpukan roti bulat berwarna cokelat keemasan dengan taburan wijen di atasnya berjejer rapi.

Teksturnya yang khas—keras di luar namun lembut di dalam—menjadi daya tarik utama.

“Selamat sore, Bapak, Ibu. Mau pesan Kompiang Original?” sapa seorang pelayan dengan ramah.

Baca Juga:  Curhat Bule dan Wisnus Tak Bisa Lihat Komodo Malah Dapat Fosil

“Iya, kami mau bawa beberapa kotak untuk oleh-oleh ke Jakarta,” kata Dimas. Sambil menunggu pesanan dikemas, Dimas berbincang sejenak dengan salah satu staf di sana.

“Ramai sekali ya setiap hari?” tanya Dimas.

“Puji Tuhan, Mas. Di toko ini, kami bisa memproduksi 500 hingga 1000 kompiang original setiap harinya,” jawab staf tersebut dengan bangga. “Semuanya dibuat segar setiap hari supaya kualitasnya tetap terjaga sampai ke tangan wisatawan.”

Tiara terbelalak kagum. “Wah, seribu butir sehari? Pantas saja aromanya sampai ke jalan raya!”

Setelah mendapatkan beberapa kantong besar berisi Kompiang Original yang masih hangat, Dimas dan Tiara kembali ke mobil.
Tiara tidak tahan untuk tidak mencicipi satu. Krak! Suara renyah kulit kompiang terdengar saat ia menggigitnya.

Baca Juga:  Hari Kedua Pencarian Gempa M 7,7 Flores: 51 Tewas, 132 Luka-Luka

“Enak banget, Dim! Masih hangat, gurih wijennya berasa banget,” ujar Tiara puas.

Mobil kembali melaju menuju Bandara Komodo. Di kursi belakang, tumpukan kotak dari Theresa Bakery siap ikut terbang ke ibu kota.

Bagi Dimas dan Tiara, kompiang itu bukan sekadar roti. Ia adalah memori tentang Labuan Bajo, tentang keramahan orang Flores, dan tentang aroma Kompiang yang akan mereka nikmati kembali saat menyeduh kopi di pagi hari yang sibuk di Jakarta nanti.

Pulang kali ini terasa lebih manis, karena ada cerita harum dari jalan utama Labuan Bajo-Ruteng yang mereka bawa pulang.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Ferdinan Ambo Nakhodai Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi NTT Perdana di Labuan Bajo
Beredar Video Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Ungkap Kronologinya
30 Pemandu Snorkeling Labuan Bajo Jalani Asesmen Ketat
Pelaku Wisata Labuan Bajo Nyaris Rugi Rp 19 Juta Akibat Ulah Sebelas Turis Asing
Famtrip BPOLBF x Scoot: Upaya Kembalikan Citra Pariwisata Flores Pascabencana
Separuh Honor Konser Wizz Baker di Parapuar Disumbangkan untuk Korban Gempa Flores
Cara BPOLBF Pulihkan Wisata Labuan Bajo Usai Gempa Flores
Mimpi Besar Petani Muda Labuan Bajo di Tengah Minimnya Alat Pertanian

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:03

Ferdinan Ambo Nakhodai Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi NTT Perdana di Labuan Bajo

Minggu, 27 September 2026 - 13:43

Beredar Video Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, Polisi Ungkap Kronologinya

Jumat, 25 September 2026 - 14:29

30 Pemandu Snorkeling Labuan Bajo Jalani Asesmen Ketat

Selasa, 22 September 2026 - 09:15

Pelaku Wisata Labuan Bajo Nyaris Rugi Rp 19 Juta Akibat Ulah Sebelas Turis Asing

Senin, 21 September 2026 - 19:32

Famtrip BPOLBF x Scoot: Upaya Kembalikan Citra Pariwisata Flores Pascabencana

Berita Terbaru