LABUAN BAJO — Pembangunan fisik Jalan Lingkar Utara Flores sepanjang 141,29 kilometer ditargetkan rampung pada 2031. Proyek Strategis Nasional (PSN) penunjang pariwisata Labuan Bajo ini menelan estimasi anggaran hingga Rp1,07 triliun.
Meski menjadi prioritas, pengerjaan proyek berjalan bertahap. Pada tahun ini, pemerintah baru bisa mengerjakan sekitar 10 kilometer dari total lintasan.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, Janto, merinci kebutuhan dana besar tersebut di hadapan tim kunjungan kerja Komisi V DPR RI di Labuan Bajo, Rabu (22/7/2026).
“Kebutuhan anggaran pembangunan fisik Jalan Lingkar Utara Flores diperkirakan mencapai Rp1.079,45 miliar,” kata Janto.
Janto membeberkan, dari total panjang jalan 141,29 kilometer, baru 53,87 kilometer yang sudah beraspal.
Kondisi sisa jalan bervariasi. Sepanjang 10,77 kilometer dalam tahap peningkatan, 43,51 kilometer masih berupa jalan tanah dan 33,12 kilometer merupakan ruas yang belum tembus sama sekali.
“Masih ada 87,41 kilometer ruas jalan yang perlu pengaspalan,” imbuhnya.
Merespons lambatnya laju proyek, Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras, menyoroti persoalan pembebasan lahan.
Andi mendesak pemerintah daerah setempat segera membereskan urusan lahan agar proyek jalan itu bisa dikebut dan dimanfaatkan oleh publik.
“Dengan begitu, pelaksanaan pembangunan tidak lagi terkendala dan anggaran yang dialokasikan dapat segera direalisasikan,” tegasnya.
Infrastruktur ini dirancang sebagai jalur alternatif dari Reo, Kabupaten Manggarai menuju Labuan Bajo.
Rutenya melintasi ruas Labuan Bajo-Terang-Bari-Kedindi, yang pengerjaan terakhirnya berada di Kampung Lembah, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng.
Selain pengaspalan, proyek ini juga mencakup pembangunan sejumlah jembatan baru. Akses ini diproyeksikan menjadi urat nadi penunjang destinasi pariwisata superprioritas Labuan Bajo.
Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga sebenarnya sudah memulai intervensi proyek ini sejak 2015.
Selama kurun waktu tersebut, negara telah menggelontorkan dana sekitar Rp165,43 miliar untuk menangani 78,55 kilometer ruas.
Andi Iwan mengingatkan, percepatan infrastruktur ini sangat krusial dampaknya terhadap perekonomian lokal. Tujuannya, kata dia, agar manfaat dari jalan tersebut segera dirasakan oleh masyarakat.
“Memperkuat konektivitas antarwilayah, serta mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Flores,” pungkasnya.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update







