Ancam Demo Besar, Pemandu Wisata Labuan Bajo Tolak Sistem Kuota Masuk TN Komodo

- Redaksi

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rapat bersama anggota di Sekretariat PWL Labuan Bajo, Sabtu, 21 Februari 2026. Mereka menilai kebijakan 1000 Kuota ke TN Komodo tidak memiliki landasan yang kuat.

Rapat bersama anggota di Sekretariat PWL Labuan Bajo, Sabtu, 21 Februari 2026. Mereka menilai kebijakan 1000 Kuota ke TN Komodo tidak memiliki landasan yang kuat.

LABUAN BAJO — Penasihat organisasi Pemandu Wisata Lokal (PWL) Labuan Bajo, Rafael Taher, menyatakan sikap tegas menolak kebijakan pembatasan kuota 1.000 pengunjung per hari ke kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Pernyataan tersebut disampaikan Rafael dalam rapat bersama anggota di Sekretariat PWL Labuan Bajo, Sabtu, 21 Februari 2026. Ia menilai kebijakan tersebut tidak memiliki landasan yang kuat.

“Kami menyatakan menolak pembatasan kuota 1.000 karena tidak punya alasan yang jelas, baik secara ilmiah, hukum, maupun ekonomi sosial,” ujar Rafael Taher di hadapan para anggota pemandu wisata.

Menurut Rafael, pemerintah sejauh ini belum melakukan sosialisasi publik yang didasari kajian saintifik (student-centered). Ia mempertanyakan dasar angka 1.000 yang dianggap membahayakan ekosistem Pulau Komodo dan Pulau Padar.

“Mengapa 1.000? Mengapa bukan 10.000 per hari? Kesimpulan angka tersebut tidak pas karena tidak memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Baca Juga:  Warga dan Tim SAR Sisir Danau Ranamese Cari Bocah Tenggelam

Poin utama penolakan ini didasari oleh kekhawatiran akan dampak ekonomi terhadap pemandu wisata lokal. Rafael menyebut pembatasan tersebut secara langsung mematikan mata pencaharian mereka.

“Kebijakan ini membunuh piring nasi guide lokal. Pemerintah pusat melalui BTNK membunuh nasib pemandu wisata yang mengais rezeki di Pulau Padar setiap hari,” kata Rafael.

Ia mengkhawatirkan jika ruang kerja di TNK tertutup, para pemandu lokal terpaksa harus meninggalkan daerahnya untuk mencari kerja di sektor lain.

“Apakah pemerintah nanti menelantarkan kami? Apakah kami harus merantau lagi ke Kalimantan untuk kerja di kelapa sawit? Sementara lapangan kerja ada di depan mata kami,” tambahnya.

Rafael memperingatkan pemerintah bahwa jika kebijakan ini tetap dipaksakan, para pelaku wisata akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran secara berkelanjutan.

Baca Juga:  BPN Mabar Disemprot Massa: Badan Pertanahan atau Badan Pertahanan Investor?

Selain nasib pemandu, Rafael menyoroti dampak bagi warga asli Pulau Komodo yang bekerja sebagai ranger atau penjual suvenir. Pembatasan tamu otomatis menurunkan pendapatan warga di Loh Liang dan sekitarnya.

Ia juga mengkritik adanya kontradiksi kebijakan antara pemerintah pusat dan pengelola kawasan. Di satu sisi, kata Rafael, era Presiden Jokowi menargetkan satu juta wisatawan per tahun di Manggarai Barat.

“Ini kontradiksi kepentingan. Satu sisi ingin mendatangkan tamu sebanyak-banyaknya, tapi di sisi lain dibatasi 1.000 orang. Ada apa sebenarnya dengan negara ini?” tanya Rafael.

PWL juga mencurigai adanya celah manipulasi dalam sistem kuota tersebut. Mereka khawatir pendaftaran kuota akan selalu penuh oleh pihak tertentu sehingga mendiskriminasi pelaku wisata lainnya.

Sebagai solusi, Rafael menyarankan agar pemerintah tidak menggunakan sistem kuota, melainkan mengatur ritme perjalanan (cycling trekking) di lokasi wisata.

Baca Juga:  Gerak Cepat! PLN dan Damkar Ende Padamkan Kebakaran di Gudang Logistik Tanpa Gangguan Listrik

“Tahan dulu 100 orang, setelah turun baru masuk lagi 100 berikutnya. Atur ritmenya, jangan pakai kuota. Kami ke sana hanya untuk melihat pemandangan, bukan untuk tidur,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika pemerintah ingin adil namun tetap ingin membatasi, lebih baik kawasan TNK ditutup total bagi semua pihak agar tidak ada diskriminasi antaragen perjalanan.

Rafael menekankan bahwa lonjakan wisatawan hanya terjadi pada bulan-bulan tertentu seperti Juni hingga September. Selebihnya, kondisi kunjungan tergolong normal sehingga kuota tidak diperlukan.

“Lepas saja tamu ke sana setiap hari agar semua pelaku pariwisata, baik guide maupun pemilik kapal lokal, bisa mendapatkan uang,” pungkasnya.

Pernyataan sikap ini juga akan ditembuskan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BTNK, Dinas Pariwisata Manggarai Barat, Bupati Manggarai Barat, hingga Gubernur NTT.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajo Update

Berita Terkait

Dilantik Muhaimin, Sewargading Ditarget Bawa PKB Manggarai Barat Menang di 2029
Kronologi Kecelakaan Pikap vs Xpander di Labuan Bajo, Tak Ada Korban Jiwa
Kesbangpol Manggarai Barat Kirim Dua Wakil Paskibraka ke Kupang, Ini Tahapannya
Workshop Bambu Masuk Sekolah Warnai Peringatan Hari Anak Nasional di Nagekeo
Kecelakaan Xpander vs Pikap di Merombok, Korban Dilarikan ke RS
Jaringan Apotek K-24 Ekspansi ke Labuan Bajo
Dua Tahun BERES KIS: Siasat Puskesmas Lawir Atasi Penundaan Berobat Warga di 11 Desa
PDAM Wae Mbeliling Pastikan Suplai Air Parapuar Penuhi Standar Pariwisata

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 15:43

Dilantik Muhaimin, Sewargading Ditarget Bawa PKB Manggarai Barat Menang di 2029

Senin, 27 Juli 2026 - 15:04

Kronologi Kecelakaan Pikap vs Xpander di Labuan Bajo, Tak Ada Korban Jiwa

Senin, 27 Juli 2026 - 09:01

Workshop Bambu Masuk Sekolah Warnai Peringatan Hari Anak Nasional di Nagekeo

Minggu, 26 Juli 2026 - 19:19

Kecelakaan Xpander vs Pikap di Merombok, Korban Dilarikan ke RS

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:06

Jaringan Apotek K-24 Ekspansi ke Labuan Bajo

Berita Terbaru