LABUAN BAJO – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Manggarai Barat mengeluarkan himbauan penting menjelang rentetan perayaan besar keagamaan yang jatuh dalam waktu berdekatan.
Ketua FKUB Manggarai Barat, RD. Richard Manggu, mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat semangat persaudaraan di tengah keberagaman yang ada.
Adapun perayaan yang akan dirayakan dalam waktu dekat meliputi Hari Rabu Abu bagi umat Katolik, Tahun Baru Imlek bagi umat Konghucu, serta ibadah puasa Ramadan bagi umat Muslim.
“Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah anugerah yang memperkaya kehidupan bersama,” ujar RD. Richard Manggu dalam keterangan tertulisnya yang diterima media ini, Senin 16 Februari 2026.

Ia menekankan bahwa setiap perayaan membawa pesan moral yang luhur, mulai dari pertobatan, rasa syukur, hingga pengendalian diri dan solidaritas sosial.
Sebagai kota pariwisata super premium, RD. Richard berharap masyarakat Labuan Bajo terus menghidupi semangat “Persekutuan Sinergis: Berjalan Bersama, Diutus Bersama”.
Hal ini, menurutnya, merupakan panggilan untuk menjadi teladan hidup rukun serta menjaga keutuhan alam ciptaan Tuhan.
Terkait potensi gesekan antarwarga, RD. Richard mengutip pesan Santo Agustinus agar masyarakat tidak memutus hubungan atau berbicara dengan nada keras saat menegur.
“Kami mendorong kita untuk mau mendengarkan dan, sejauh mungkin, membuka diri untuk memahami alasan-alasan pihak lain,” tegasnya.
Ia pun memimpikan setiap komunitas di Labuan Bajo menjadi sebuah “rumah perdamaian” yang mampu meredakan permusuhan melalui dialog dan pengampunan.
Tak hanya soal hubungan antarmanusia, Ketua FKUB juga menyoroti kondisi ekologis Labuan Bajo yang mulai memprihatinkan.
Ia menyentil masalah sampah dan eksploitasi sumber daya berlebihan yang disebutnya sebagai bentuk “tirani atas ciptaan”.
“Alam itu sendiri terkadang direduksi menjadi alat tawar-menawar, komoditas yang dapat ditukar dengan keuntungan ekonomi atau politik,” kritiknya tajam.
RD. Richard mengingatkan bahwa kerusakan alam akan merugikan masyarakat lokal dan merusak stabilitas sosial di Labuan Bajo dan sekitarnya.
Ia mengajak warga kembali ke mandat Kitab Suci untuk ‘mengolah dan memelihara’ taman dunia, sebagaimana tertuang dalam Kejadian 2:15.
“Kerukunan tidak hanya berlaku untuk sesama manusia, tetapi mencakup seluruh tatanan penyangga kehidupan manusia itu sendiri,” tambahnya.
Mengakhiri himbauannya, RD. Richard menegaskan bahwa kerukunan adalah komitmen bersama, bukan sekadar tanggung jawab tokoh agama atau pemerintah.
Ia berharap rangkaian perayaan keagamaan tahun ini membawa berkat dan mempererat persaudaraan masyarakat sebagai satu kesatuan yang inklusif dan bermartabat.
“Kesadaran akan kelemahan diri mendorong manusia untuk bekerja bersama. Dua orang lebih baik daripada satu karena mereka saling menolong,” tutupnya.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi







