NGADA — Inisiator wisata ziarah Flores sekaligus mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, mengaku sangat tersentuh oleh kehangatan dan keramahan masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehangatan warga ia rasakan langsung saat menempuh rute jalan kaki puluhan kilometer melintasi perkampungan di Kabupaten Ngada.
Menurut Mari Elka, sapaan tulus warga di sepanjang lintasan membuat rombongan peziarah merasa diterima sepenuhnya, layaknya berada di kampung halaman sendiri.
“Sepanjang hari kemarin dan hari ini, kami sangat tersentuh dengan semuanya. Sepanjang perjalanan kami banyak berbincang dengan masyarakat, tidak ada yang tidak menyapa, dan kami merasa disambut dengan sukacita. Hanya di sini, rasanya seperti diterima di rumah sendiri,” kata Mari Elka saat malam ramah tamah di Mataloko, Sabtu (24/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Mari Elka seusai merampungkan etape tengah Camino de Flores sejauh 25,5 kilometer bersama 70 peserta lainnya. Rute hari kedua ini dimulai dari Gereja Mater Boni Consili (MBC) Bajawa, melintasi Paroki Langa, Kampung Adat Bena, Paroki Rakateda I, hingga finis di Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko.
Selain menyusuri tradisi megalitikum dan situs religi Katolik, agenda jalan kaki ini mengusung misi kemanusiaan. Dalam kesempatan tersebut, Mari Elka menyerahkan rosario sekaligus menyatakan komitmen bantuan pemulihan untuk Seminari Menengah Mataloko yang rusak diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7.
Aksi kepedulian ini juga menjadi bagian dari perayaan hari ulang tahun ke-70 Mari Elka yang menargetkan rute total sepanjang 70 kilometer.
Pimpinan Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Mataloko, Romo Stef Wolo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran serta solidaritas rombongan peziarah.
“Ini bukan sekadar aktivitas berjalan kaki, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur, mempererat persahabatan, dan menghadirkan kepedulian nyata bagi sesama,” ujar Romo Stef.
Dukungan terhadap wisata ziarah ini turut disuarakan pemerintah pusat. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai pola perjalanan berbasis budaya dan religi di Flores sangat potensial dikembangkan sebagai daya tarik unggulan baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang berjalan kaki, tetapi juga tentang mengenal Flores lebih dekat, menyusuri tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual dan budaya, serta berinteraksi dengan masyarakat di sepanjang jalur perjalanan,” jelas Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini.
Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menegaskan bahwa model wisata jalan kaki lintas kabupaten ini efektif memeratakan distribusi kunjungan pelancong di NTT.
“Pola perjalanan seperti ini diharapkan juga dapat menambah lama tinggal wisatawan serta persebaran wisatawan sehingga tidak terkonsentrasi pada satu lokasi saja,” tutur Andhy.
Kegiatan malam ramah tamah yang ditutup di Kemah Tabor Mataloko tersebut turut dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten Ngada, Pemkab Nagekeo, dan otoritas Gereja Katolik setempat sebagai wujud sinergi penguatan pariwisata daerah.
Penulis : Fons Abun
Editor : N. Taris







