BORONG — Ribuan penyintas gempa bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda-tenda darurat akibat trauma.
Pendampingan psikososial dinilai lebih mendesak untuk memulihkan kemandirian warga ketimbang sekadar bantuan logistik di tengah keterbatasan pemerintah.
Para korban terdampak gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu ini tersebar di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, hingga Manggarai Barat.
Memasuki hari ke-14 pascagempa, warga belum berani kembali ke kediaman masing-masing.
Selain karena kondisi bangunan yang rusak parah, ancaman gempa susulan membuat masyarakat masih dilanda ketakutan mendalam.
Relawan kemanusiaan sekaligus Ketua Pemuda Katolik Komda NTT, Yuvensius Tukung, menyebut pendampingan sosial bagi para penyintas adalah kebutuhan paling mendesak saat ini.
Berdasarkan pantauan timnya di lapangan, mulai dari kawasan Nagekeo hingga Manggarai Timur, warga masih terjebak dalam situasi psikologis yang sulit.
“Menurut saya, (yang utama adalah) pemulihan perasaan takut untuk bisa tenang dan kembali bergembira,” kata Yuvensius di Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (28/8/2026).
Yuvensius menegaskan, bantuan logistik berupa bahan pokok memang dibutuhkan, tetapi sifatnya hanya sementara.
Ia menilai, pemulihan kondisi psikologis jauh lebih krusial agar penyintas dapat segera bangkit dari keterpurukan dan kembali menjalani hidup normal.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Kembali berdiri di kaki sendiri,” ujar Yuvensius.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian warga di tengah lambannya duyungan dan keterbatasan respons dari pihak pemerintah daerah maupun pusat.
“Tidak bisa terlalu berharap ke pemerintah, jika disandingkan dengan tampilan pemerintah yang serba terbatas,” tegasnya.
Oleh karena itu, relawan Pemuda Katolik Komda NTT saat ini memfokuskan program mereka pada pemulihan semangat hidup dan daya juang para penyintas.
Masyarakat mulai didorong untuk kembali beradaptasi dengan situasi pascabencana dan menjalankan aktivitas sehari-hari agar roda ekonomi keluarga kembali berputar.
“Masyarakat harus mulai beraktivitas seperti berkebun. Tidak harus bergantung kepada pemerintah. Itu yang kami coba lakukan dari Mbai hingga ke Manggarai Timur,” pungkas Yuvensius.
Penulis : N. Taris
Editor : Fons Abun






