NAGEKEO — Siswa Sekolah Dasar Katolik (SDK) Bokogo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), merayakan Hari Anak Nasional pada Kamis (23/7) dengan mengikuti kegiatan Workshop Bamboo Goes to School.
Kegiatan edukasi lingkungan dan budaya lokal ini diinisiasi oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA).
Dalam acara tersebut, para siswa tidak sekadar bermain. Mereka diajak melihat langsung proses pengolahan bambu menjadi meja, kursi, lonceng angin, hingga peralatan makan dan alat tulis.
Praktik pembuatan produk berbahan bambu itu dipandu langsung oleh instruktur dari perwakilan orang tua murid. Hasil karya tersebut nantinya akan digunakan sebagai fasilitas dan media pembelajaran di sekolah.
Koordinator Kabupaten YBLL di Nagekeo, Ruslan, menyebut kegiatan ini merupakan langkah awal organisasinya untuk berkontribusi memperbaiki infrastruktur sekolah di NTT.
“Kami ingin Hari Anak Nasional menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Bambu hanyalah media,” jelas Ruslan.

Ruslan menambahkan, tujuan utama dari agenda ini adalah memberikan ruang bagi anak untuk berkembang dan mengenali akar kehidupannya.
“Yang terpenting adalah anak-anak memperoleh kesempatan untuk belajar, bermain, berkreasi, dan mengenal lingkungan serta budaya yang ada di sekitar mereka,” imbuhnya.
Selain lokakarya bambu, perayaan juga dimeriahkan dengan berbagai permainan edukatif. Siswa diajak berlomba memasukkan paku ke dalam botol, balap kelereng, hingga memecahkan balon secara berkelompok guna melatih kerja sama tim dan sportivitas.
Siswa kelas 6 SDK Bokogo, Maria Stefani Dema, mengaku antusias dengan seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Ia merasa bahagia karena mendapatkan pengetahuan baru terkait pemanfaatan bambu.
“Harapan saya di perayaan ini, saya bisa mendapatkan hak untuk bermain, mendapat pendidikan, mendapatkan makanan, dan hak untuk mendapatkan identitas,” ujar Maria.
Rangkaian acara tidak berhenti di area sekolah. Para siswa juga diajak melakukan pembelajaran kontekstual dengan mengunjungi Kebun Pangan Perempuan yang dikelola Kelompok Delima Wolowea.
Di kebun tersebut, anak-anak ikut memanen sayuran hijau. Mereka juga berdialog langsung dengan para “Mama Bambu” mengenai manfaat kebun bagi gizi keluarga dan pentingnya mengonsumsi pangan lokal.
Agenda ditutup dengan sesi literasi budaya Wolowea. Anak-anak mendengarkan cerita dari tokoh masyarakat mengenai sejarah empat jembatan bambu di desa tersebut.
Mereka juga dikenalkan kembali dengan tradisi Zoka, sebuah ritual adat yang masih dilestarikan masyarakat setempat sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen.
Penulis : Ofantri Nero
Editor : Fons Abun







