Lebih dari Separuh Kapal di Labuan Bajo Ilegal, DPRD: ‘Pemerintah Daerah Tak Dapat Apa-apa’

- Redaksi

Kamis, 14 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hasanudin, Anggota DPRD sekaligus Ketua DPD Partai Perindo Manggarai Barat. (Foto/Andi A).

Hasanudin, Anggota DPRD sekaligus Ketua DPD Partai Perindo Manggarai Barat. (Foto/Andi A).

LABUAN BAJO Ratusan kapal wisata beroperasi tanpa izin di perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kondisi ini memicu dugaan kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam jumlah besar dari sektor pariwisata bahari.

Anggota DPRD Manggarai Barat, Hasanudin, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh kapal wisata yang beroperasi di kawasan tersebut berstatus ilegal.

Berdasarkan data yang ia paparkan, dari total 812 kapal wisata, hanya sekitar 244 kapal yang mengantongi izin resmi.

Sisanya, sebanyak 568 kapal, beroperasi secara bebas tanpa memberikan kontribusi finansial kepada pemerintah daerah.

“Dari total 800 lebih kapal wisata, yang memiliki izin dan berkontribusi terhadap PAD baru 244 lebih kapal. Sedangkan 568 lebih lainnya belum memiliki izin. Tentunya ini berarti tidak ada kontribusi terhadap PAD Kabupaten Manggarai Barat,” tegas Hasanudin kepada wartawan di Labuan Bajo, Rabu (13/05/2026).

Baca Juga:  Misteri Kontraktor Jembatan Maut Cunca Wulang: Anggaran Rp900 Juta, Fasilitas Tanpa Perawatan

Ketua DPD Partai Perindo Manggarai Barat itu menyoroti aliran dana pariwisata yang justru keluar dari daerah.

Menurutnya, banyak pemilik kapal wisata berasal dari luar daerah, sehingga perputaran uang dan keuntungan bisnis tidak dinikmati oleh masyarakat Manggarai Barat.

“Jika terdapat kebocoran daerah, maka uang ini tidak masuk dalam PAD Kabupaten Manggarai Barat, tetapi pendapatan tersebut langsung ke kota-kota besar tanpa masuk ke daerah, karena yang punya kapal-kapal wisata ini banyak juga yang dari luar daerah,” ujarnya.

Sebagai solusi, Hasanudin meminta pemerintah daerah dan instansi terkait segera menertibkan kapal-kapal tersebut.

Ia juga mendorong kebijakan yang mewajibkan seluruh operator kapal wisata membuka kantor cabang di Labuan Bajo.

Baca Juga:  Menpar Widiyanti: Warga Harus Jadi Aktor Utama Pariwisata Labuan Bajo

Langkah itu dinilai penting untuk mempermudah proses pengawasan administrasi serta pemungutan pajak daerah.

“Perlu dilakukan penertiban agar kebermanfaatannya betul-betul dirasakan oleh daerah melalui PAD di sektor tersebut dan juga berdampak langsung kepada kepentingan masyarakat Kabupaten Manggarai Barat,” katanya.

Dari sisi regulasi, Hasanudin menilai Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2023 belum diterapkan secara optimal.

Hal ini diperparah oleh ketidakjelasan status antara kapal wisata dan angkutan laut biasa, yang sering kali menjadi celah hukum.

Oleh karena itu, ia meminta penguatan koordinasi antara pemerintah kabupaten dengan instansi vertikal, seperti Kementerian Perhubungan dan Syahbandar.

Selain persoalan perizinan kapal, Hasanudin turut menyoroti kasus dugaan penipuan oleh agen perjalanan wisata terhadap turis asal Malaysia dan Singapura.

Kasus penipuan tersebut tercatat menimbulkan kerugian hingga Rp85,2 juta bagi para wisatawan.

Baca Juga:  Buntut Tenggelamnya KLM Putri Sakinah, Kapten dan KKM Segera Disidang

Ia khawatir insiden ini akan merusak reputasi Labuan Bajo di mata dunia internasional.

“Kejadian ini tentunya berpengaruh juga terhadap wisata Labuan Bajo karena berkaitan dengan citra wisata kita di Kabupaten Manggarai Barat, apalagi Labuan Bajo sudah disematkan sebagai destinasi wisata superioritas atau wisata premium,” ucapnya.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sejatinya telah memiliki dasar hukum penertiban melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kepariwisataan.

Hasanudin mendesak aturan tersebut ditegakkan demi menjaga iklim pariwisata yang sehat dan menguntungkan daerah.

“Terhadap persoalan izin kapal wisata ini tentunya kita harus bersama-sama mencari solusinya agar ada ketegasan dari kita semua, sehingga kapal-kapal ini tidak lagi membangkang dan menjadi kapal wisata ilegal di Labuan Bajo,” pungkasnya.

Penulis : Tim Bajo Update

Editor : Fons Abun

Berita Terkait

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan
Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:07

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:57

Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:12

Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17