LABUAN BAJO — Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang sempat melumpuhkan aktivitas di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, direspons PT Pertamina dengan menyuplai ratusan kiloliter BBM melalui jalur laut.
Langkah mitigasi ini diambil usai kelangkaan BBM memicu antrean kendaraan hingga 600 meter dan menghentikan total sektor konstruksi di kawasan pariwisata super premium tersebut.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kapal pengangkut BBM telah bersandar di Fuel Terminal Reo pada Rabu (06/05).
Kapal tersebut membawa muatan 400 kiloliter (KL) Pertamax, 250 KL Pertalite, dan 500 KL Biosolar untuk menutupi kebutuhan masyarakat di wilayah Manggarai Barat.

“Kami memprioritaskan distribusi ke SPBU yang mengalami lonjakan konsumsi tinggi. Kami berharap dengan langkah ini, kondisi di SPBU dapat segera membaik dan antrean kembali normal,” ujar Ahad kepada bajoupdate.com, Rabu siang (6/5).
Krisis pasokan energi ini mulai dirasakan masyarakat usai Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi pada Senin (04/05).
Di wilayah NTT, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp20.350, Dexlite Rp26.600, dan Pertamina Dex tercatat di angka Rp28.500 per liter.
Meski harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tidak mengalami perubahan, pasokan kedua jenis bahan bakar tersebut mendadak sulit ditemukan di pasaran.
Akibatnya, antrean kendaraan mengular secara merata di sejumlah titik, termasuk SPBU Pasar Baru, Gorontalo, Sernaru, hingga SPBU Merombok.
Sejumlah pengemudi angkutan bahkan dilaporkan terpaksa menginap di dalam kendaraan mereka sejak Senin (04/05), demi menunggu kepastian pasokan yang tak kunjung tiba.
Di tingkat pengecer, kelangkaan ini memicu lonjakan harga yang ekstrem.
BBM jenis Pertalite yang dikemas dalam setengah botol air mineral dijual di sepanjang pinggir jalan Labuan Bajo di kisaran harga Rp25.000 hingga Rp30.000. Harga ini melonjak jauh di atas harga eceran resmi pemerintah.
Situasi krisis ini juga memukul telak roda ekonomi daerah, terutama sektor industri dan konstruksi lokal.
Sejumlah pengusaha terpaksa menghentikan operasional alat berat mereka di berbagai lokasi proyek karena ketiadaan bahan bakar.
Seorang pengusaha konstruksi di Labuan Bajo, yang enggan disebutkan namanya, mengaku perusahaannya tidak lagi mampu menanggung lonjakan biaya operasional harian.
“Sementara ini kami tidak berbelanja untuk kebutuhan operasional,” ungkapnya.
Ia memastikan operasional proyek akan terus dihentikan hingga situasi distribusi energi di wilayah tersebut kembali normal.
Menghadapi kondisi ini, Pertamina mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan membeli BBM secara bijak sesuai kebutuhan.
Pertamina juga meminta masyarakat untuk segera melapor ke pusat kontak Pertamina di nomor 135 jika menemukan adanya pelanggaran di SPBU.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi






