Misteri Riwayat Sakit di Balik Kematian Pekerja Hiburan Malam Labuan Bajo

- Redaksi

Selasa, 5 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAMBAR Ilustrasi: SUMBER FOTO- Pixabay

GAMBAR Ilustrasi: SUMBER FOTO- Pixabay

LABUAN BAJO Seorang perempuan pekerja tempat hiburan malam asal Karawang, Jawa Barat, meninggal dunia setelah sempat dirawat di rumah sakit di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Pihak manajemen kelab malam membantah keras tudingan yang menyebut korban dipaksa bekerja melayani tamu saat kondisinya sedang sakit.

Mereka juga menepis isu yang menarasikan bahwa perusahaan sengaja menutupi insiden ini dari pantauan publik dan media massa.

Korban yang diketahui bernama Rika R itu mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Siloam, Labuan Bajo, pada Senin (04/05/2026) pagi, sekitar pukul 09.14 Wita.

Sebelumnya, Rika bekerja sebagai pemandu lagu di Tempat Hiburan Malam (THM) Le Dupar, yang berlokasi di kawasan Gorontalo, Labuan Bajo.

Baca Juga:  Jaringan Apotek K-24 Ekspansi ke Labuan Bajo

Manajer Le Dupar, Emanuel S, menegaskan bahwa pada hari kejadian, korban sama sekali tidak dipekerjakan.

“Kami tidak pernah memaksa karyawan. Hari itu almarhumah memang sedang libur karena sejak sore sudah mengalami sesak napas,” ujar Emanuel saat dikonfirmasi usai mengurus jenazah, Senin sore, 4 Mei 2026.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan pihak kelab, korban mulai mengeluhkan sesak napas kepada rekan sekamarnya pada Minggu (03/05/2026) sore.

Rekan korban sempat memberikan pertolongan pertama menggunakan minyak kayu putih.

Kondisi korban dilaporkan sempat membaik sebentar, namun kembali memburuk beberapa waktu kemudian.

Puncak perburukan kondisi terjadi pada pukul 21.30 Wita. Menyadari situasi kritis tersebut, pihak manajemen segera melarikan korban ke unit gawat darurat RS Siloam.

Baca Juga:  Kawal Profesionalisme Polri, Propam Polres Mabar Sasar Gen Z di Labuan Bajo

Namun, nyawa korban tidak dapat diselamatkan setelah menjalani perawatan intensif semalaman.

Pihak manajemen mengaku terkejut dengan kejadian ini. Selama bekerja, korban disebut tidak pernah melaporkan adanya masalah kesehatan.

Riwayat penyakit korban baru terungkap setelah manajemen menghubungi pihak keluarga di Karawang.

“Ternyata memang ada riwayat sakit, namun selama ini almarhumah tidak pernah menyampaikannya kepada pihak manajemen,” kata Emanuel.

Menyusul insiden ini, Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat telah turun tangan untuk melakukan penyelidikan. Aparat kepolisian telah memanggil dan meminta keterangan dari sejumlah saksi kunci, termasuk rekan sekamar, sopir, serta pengawas pekerja–Mami.

Sementara itu, terkait tudingan bahwa manajemen sengaja bungkam pasca-kematian korban, Emanuel memberikan klarifikasi.

Baca Juga:  Carrying Capacity TNK Dipertanyakan, DPRD Mabar: Kebijakan Kok Lentur?

Ia menyatakan bahwa keheningan pihak perusahaan murni karena keterbatasan waktu dan tengah sibuk dalam mengurus prosedur pemulangan jenazah.

“Kami sedang fokus mengurus jenazah di tengah situasi berduka. Waktu kami sangat terbatas untuk mengurus administrasi rumah sakit, memandikan jenazah, proses formalin, hingga kargo pesawat,” paparnya.

Sebagai wujud tanggung jawab, perusahaan menyatakan telah menanggung seluruh biaya penanganan almarhumah.

Biaya tersebut mencakup perawatan medis di rumah sakit hingga penerbangan kargo untuk memulangkan jenazah ke Karawang.

Manajemen Le Dupar juga mengutus perwakilan resmi untuk mengawal jenazah hingga diserahterimakan langsung kepada pihak keluarga.

Menurut keterangan Emanuel, pihak keluarga telah menerima kepulangan jenazah dan pihak keluarga menyampaikan terimakasih atas bantuan proses pemulangan tersebut.

Penulis : Fons Abun

Editor : Redaksi

Berita Terkait

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan
Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog
Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara
Derita Korban Gempa Manggarai: Rumah Rata dengan Tanah, Pejabat Tak Pernah Singgah
Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta
Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?
Bertahan di Pusat Gempa Flores, YBLL Distribusikan Susu dan Obat ke Nagekeo
“Saya Hargai Bapak Seperti Tuhan”, Kemarahan Camat di Flores Pecah Lawan BNPB

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:07

9.547 Rumah Rusak di Mabar Akibat Gempa, Tim Verifikasi Cegah Data Fiktif Bantuan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:55

Bantu Korban Gempa NTT, Polda Jateng Kirim Puluhan Ton Logistik hingga Tim Psikolog

Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:16

Upaya Basarnas Penuhi Kebutuhan Logistik Korban Gempa Manggarai Timur Lewat Jalur Udara

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:57

Gempa M 7,7 Flores: Gugur Saat Bertugas, Jenazah Zaki Ali Diterbangkan ke Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 12:12

Krisis Bantuan Pascagempa Manggarai: Mengapa Administrasi Masih Jadi Kendala?

Berita Terbaru

Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Resmob Komodo menangkap ASJ di kawasan Sernaru, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Ia ditangkap tanpa perlawanan pada pukul 23.30 WITA.

Hukum & Kriminal

Aksi Tega Pelajar SMK Labuan Bajo: Jarah Rumah Kosong Korban Gempa

Minggu, 23 Agu 2026 - 22:17