Labuan Bajo – Layar besar di Aula Hotel Perundi menyala pada Sabtu sore, 15 November 2025 lalu. Dari Jakarta, wajah Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan muncul secara virtual.
Ketukan palu virtual itu bergema. Isinya tegas: Inocentius Peni resmi didapuk sebagai nakhoda baru DPD PAN Kabupaten Manggarai Barat periode 2025-2030.
Mandat ini sekaligus menyudahi lima tahun kepemimpinan Marselinus Jeramun. Ino Peni, begitu ia akrab disapa, kini memikul beban membawa simbol matahari terbit di ujung barat Flores.
Zulkifli Hasan menitipkan pesan pendek namun tajam. Ia meminta kader PAN punya mental pemenang dan kepercayaan diri tinggi.
Bagi Ino, pesan itu bukan sekadar jargon politik. Ia merasa pesan itu adalah rangkuman dari perjalanan hidupnya yang berliku.
Menerima tongkat estafet, Ino tak tampak jemawa. Suaranya tenang saat menyampaikan terima kasih kepada pucuk pimpinan dan pendahulunya.
Ia menyadari amanat ini besar. Namun, Ino optimistis kerja kolektif akan mampu mewujudkan target-target partai ke depan.
Sikap hormat juga ia tunjukkan kepada Marselinus Jeramun. Di mata Ino, Marsel telah meletakkan fondasi yang membuat PAN diperhitungkan di Manggarai Barat.
Marsel pun menyambut suksesornya dengan hangat. “Semoga amanah,” katanya singkat memberikan selamat.
Namun, siapa sebenarnya Inocentius Peni?
Di balik seragam partai dan kursi DPRD, tersimpan kisah ketekunan yang ditempa dari kerasnya jalanan.
Jauh sebelum masuk radar Zulkifli Hasan, Ino adalah pemuda yang bertarung dengan nasib di Kota Kupang.
Usai menggondol gelar Diploma III Pertanian dari Universitas Nusa Cendana pada 1996, ia tak langsung masuk kantor berpendingin udara.
Nasib membawanya ke pelataran parkir Swalayan Duta Lia, salah satu pusat belanja tersibuk di Kupang kala itu.
“Saya mungkin orang pertama tamatan perguruan tinggi yang jadi juru parkir saat itu,” kenang Ino.
Saban hari, dari pukul empat sore hingga sembilan malam, ia berjibaku dengan asap kendaraan. Baginya, pelataran parkir adalah ruang belajar tentang hidup.
Hasil dari keringat menjaga parkir itu ia putar kembali. Ino membeli 102 ekor ayam pedaging untuk diternak di kawasan Oepura.
Naluri organisatornya mulai teruji di akhir 1996. Ia memilih pulang kampung, masuk ke lorong-lorong desa sebagai aktivis LSM Yayasan Bina Sejahtra.
Di sana, ia mendampingi petani di pelosok Lamba Leda. “Hidup saya di lapangan sampai awal tahun 2000,” tuturnya.
Tak hanya di LSM, ia juga membidani lahirnya lembaga koordinasi koperasi kredit di Manggarai Raya. Dedikasinya di dunia koperasi sempat menarik perhatian tokoh nasional.
Saking totalnya, ia sempat diminta fokus mengurus koperasi dengan jaminan gaji pribadi dari mendiang Thoby Mutis, Rektor Universitas Trisakti kala itu.
Lembaga itu tumbuh menjadi Puskopdit Manggarai. Ino menjadi manajernya, mengawal puluhan koperasi primer hingga ia memutuskan terjun ke politik praktis.
Jejak politiknya dimulai pada 2002 di Partai Demokrat, sebelum akhirnya berlabuh di PAN pada 2009.
Pada Pemilu 2019, Ino menantang adagium lama bahwa politik hanya milik mereka yang berkantong tebal.
“Banyak yang bilang maju kontestasi tak cukup modal niat dan bicara baik. Saya tantang itu,” tegasnya.
Ia membuktikan bahwa modal sosial dan kepercayaan konstituen jauh lebih sakti. Tanpa politik uang, ia justru meraih suara tertinggi di internal PAN saat itu.
Kepercayaan publik tak luntur. Pada Pileg 2024, perolehan suaranya justru melonjak, mengamankan kursi periode keduanya di DPRD Manggarai Barat.
Kini, tantangan Ino naik kelas. Ia tak lagi sekadar menjaga basis suara, tapi harus memutar mesin partai untuk memenangkan pertarungan yang lebih besar.
Mental pemenang yang diminta Zulhas sepertinya sudah lama bersemayam di tubuh Ino. Ditempa bukan di ruang rapat, melainkan di bawah terik parkiran dan jalanan terjal pedesaan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Redaksi






