LABUAN BAJO — Rabu (19/8/2026) siang, di sebuah kios warga yang terletak tak jauh dari markas Polsek Kuwus, Inspektur Polisi Satu (IPTU) Arsilinus Lentar tampak sibuk. Tangan Kapolsek Kuwus itu cekatan membeli dan mengepak mi instan, telur ayam, dan air minum kemasan ke dalam beberapa wadah.
Bersama sejumlah anggotanya, ia tengah menyiapkan paket sembako. Logistik ini bukan untuk disimpan di markas, melainkan untuk segera disalurkan kepada para korban gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Flores beberapa hari sebelumnya.
Bagi Arsilinus, sembako yang ia beli di kios siang itu hanyalah sekadar medium. Ada misi lain yang jauh lebih mendesak untuk diselesaikan saat ia menyusuri tenda-tenda pengungsian mandiri milik warga nanti.
“Sembako ini hanya bersifat sementara. Tapi, mengobati trauma mereka yang paling utama, agar setelah bencana ini berlalu mereka kembali beraktivitas seperti biasa,” ujar Arsilinus di sela-sela kesibukannya mengepak barang.

Hari ini, Minggu (30/8/2026), genap 15 hari sudah gempa bumi tektonik itu memorak-porandakan sejumlah wilayah di beberapa kabupaten di daratan Flores, termasuk Kabupaten Manggarai Barat.
Guncangan utama pada 15 Agustus lalu mungkin telah berlalu, tetapi residu ketakutannya masih bersemayam kuat di kepala warga.
Dampaknya merambat jauh hingga ke Kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat. Rumah-rumah retak. Dinding-dinding runtuh. Ribuan kepala keluarga terpaksa mengungsi. Mereka membangun tenda-tenda darurat beratap terpal di tanah lapang. Tidur berselimut angin malam kini menjadi rutinitas baru warga.
Ketakutan akan guncangan susulan membuat mereka enggan sekadar menginjakkan kaki kembali ke dalam rumah.

Di tengah krisis dan kepanikan itulah, jajaran Polsek Kuwus mengambil peran lebih. Langkah nyata itu terlihat saat rombongan Polsek dan Bhayangkari Ranting Kuwus tiba di Kampung Dahang, Desa Pangga. Di bawah terpal seadanya, kaum perempuan dan anak-anak ditenangkan dengan psychological first aid (pertolongan pertama psikologis).
“Kedatangan kami bukan sekadar menyerahkan bantuan fisik, melainkan bentuk kehadiran utuh Polri di tengah masyarakat yang sedang diuji bencana. Kami ingin memastikan bahwa warga tidak merasa berjuang sendirian,” tegas IPTU Arsilinus saat menyapa para pengungsi.

Membelah Malam dan Pilu Korban Gempa
Aksi kemanusiaan polisi di ujung barat Pulau Flores itu tak berhenti saat matahari terbenam.
Pada malam harinya, rombongan Polsek menembus jalanan gelap menuju Kampung Ntalung, Desa Coal. Di sana, warga berkerumun di bawah temaram lampu tenda dengan wajah was-was. Bantuan beras, terpal, hingga popok bayi disalurkan secara bertahap.
Di salah satu sudut tenda Kampung Ntalung, terbaring seorang wanita paruh baya. Namanya Yuliana Soli Ledi. Kakinya patah, raut wajahnya meringis menahan perih.
Kisah Yuliana adalah potret tragedi di dalam tragedi. Ia jauh-jauh datang menyeberang pulau dari Sumba Tengah demi menjenguk putrinya, Yublina Wairu Gore, yang baru saja melahirkan anak pertama.
Nahas, saat gempa utama M7,7 terjadi, Yuliana panik dan berlari keluar. Tepat di ambang pintu, tembok rumah roboh dan menghantam kaki kanannya. Sukacita menyambut cucu pertama pun seketika berubah menjadi ratapan.
Melihat kondisi itu, tim kepolisian dan medis berusaha keras membujuk Yuliana agar mau dirujuk ke RSUD Komodo di Labuan Bajo.
“Kami sudah berupaya maksimal membujuk dan memberikan pemahaman medis agar Mama Yuliana bersedia dirujuk guna mendapat perawatan bedah tulang yang memadai,” terang Arsilinus.
Namun, keluarga akhirnya memilih jalur pengobatan tradisional. Yuliana memutuskan pulang ke Sumba Tengah keesokan harinya. Pihak kepolisian menghormati keputusan itu, namun tetap menugaskan Bhabinkamtibmas untuk memantau perjalanan Yuliana hingga tiba di kampung halaman.

Tembus Longsor demi Tawa Anak-Anak
Bencana nyatanya tidak cuma menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus akses jalan transportasi. Di Desa Sama, jalan utama tertutup material tanah dan batuan longsor.
Pada Sabtu (22/8/2026), tim Polsek Kuwus harus bersusah payah menembus jalur rawan longsor tersebut karena kawasan itu sempat terisolasi.
Kepolisian sampai harus berkoordinasi cepat dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta BPBD Kabupaten Manggarai Barat untuk mendatangkan alat berat.
Tiba di lokasi pengungsian Desa Sama, polisi sedikit mengubah pendekatan. Mereka menggelar program trauma healing. Permainan edukatif, kuis interaktif, dan nyanyian bersama menggema di lokasi pengungsian.

Perlahan-lahan, gelak tawa anak-anak yang sempat hilang tertelan guncangan gempa, kembali pecah siang itu.
“Kehadiran kepolisian tidak hanya membawa bantuan pangan, tetapi yang paling berharga adalah mengembalikan senyum anak-anak kami yang sempat trauma,” ungkap Kepala Desa Sama, Tarsisius Madu.
Di lokasi lain, Kepala Desa Pangga, Patrisius Suwandi, menyebut kebutuhan warganya kini bukan lagi sekadar sembako. Hawa dingin malam menusuk tulang para pengungsi.
“Kebutuhan mendesak warga kami saat ini adalah selimut, pakaian hangat, serta layanan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan untuk mengantisipasi ISPA, demam, maupun penyakit kulit,” tutur Patrisius.
Ruang Kelas yang Menjadi Puing
Kini, setelah perut sedikit terisi, tantangan terbesar pasca-gempa beralih pada masa depan anak-anak. Nestapa itu tampak jelas di SDN Golo Lewe, Kecamatan Kuwus Barat.
Sabtu pagi (29/8/2026), kabut tipis masih menyelimuti Kampung Ndiuk saat personel gabungan TNI-Polri, aparat kecamatan, dan guru bergotong royong di sekolah tersebut.
Pemandangannya teramat memilukan. Dinding-dinding kelas retak menganga, lantai tertutup pecahan material, dan endapan tanah kering berserakan.

Dengan menggenggam sekop dan cangkul, aparat bahu-membahu membersihkan puing-puing. Halaman yang telah bersih kemudian disulap menjadi arena trauma healing darurat agar anak-anak kembali berani menatap masa depan.
Namun, kebersihan halaman sekolah tetap tak bisa menyembunyikan fakta pahit: seluruh ruang kelas dan kantor guru mengalami kerusakan struktur yang sangat parah. Bangunan itu bahkan nyaris roboh.
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pun dipastikan lumpuh total. Fasilitas pendidikan ini terlalu berbahaya jika dipaksakan untuk digunakan kembali oleh para murid.
Dengan mata berkaca-kaca, Kepala Sekolah SDN Golo Lewe, Yoseph Sudiarjo, menyampaikan jeritan hatinya. Ia memohon bantuan agar pendidikan anak didiknya tak dibiarkan terbengkalai.
“Saat ini, para siswa tidak dapat belajar di dalam ruangan kelas karena kondisi bangunan yang tidak memungkinkan,” keluh Yoseph.
Ia melanjutkan harapannya, berharap suaranya dapat menembus meja para pengambil kebijakan di level kabupaten maupun pusat.
“Oleh karena itu, kepada Bapak Pimpinan dan Bapak Kapolri, kami sangat membutuhkan bantuan berupa tenda darurat atau tenda lapangan agar anak-anak dapat kembali belajar dengan baik,” lanjutnya penuh harap.
Merespons jeritan hati pihak sekolah, IPTU Arsilinus berjanji akan mengawal aspirasi tersebut dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
“Langkah koordinasi lintas sektoral akan segera dikomunikasikan agar proses belajar mengajar para siswa SDN Golo Lewe tidak terhenti terlalu lama,” tegas Arsilinus.
Sembari menunggu bantuan tenda belajar dari BPBD dan Dinas Pendidikan turun, aparat kepolisian menyiagakan patroli rutin. Mereka bertugas menjaga harta benda di rumah-rumah kosong yang ditinggal mengungsi, serta mengamankan sisa aset sekolah yang hancur.
Setengah bulan telah berlalu sejak daratan Flores berguncang hebat. Kendati atap sekolah telah hancur dan malam-malam dingin masih harus dilalui di bawah terpal, warga setidaknya tahu: di tengah musibah ini, mereka tak dibiarkan berjuang sendirian.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate







