Labuan Bajo – Sebanyak 19 peserta didik kelas 6 SDK Toe Loha mengikuti simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada Selasa, 27 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan intensif menjelang pelaksanaan TKA resmi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud.
Simulasi yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut berjalan lancar. Program ini dirancang untuk membiasakan siswa dengan pola soal dan teknis ujian yang akan dihadapi mendatang.
Kepala Sekolah SDK Toe Loha, Theodorus Jemalu, S.Pd, menyatakan bahwa simulasi ini bertujuan mengukur sejauh mana kesiapan akademik peserta didik.
“Simulasi TKA ini merupakan bentuk persiapan peserta didik untuk menjemput TKA yang dilaksanakan oleh Kemendikbud,” kata Theodorus.
Menurut Theodorus, kegiatan ini dilaksanakan di bawah bimbingan langsung para guru. Pihak sekolah juga telah menyusun jadwal atau roster khusus untuk simulasi-simulasi berikutnya guna memastikan kematangan siswa.
Mata pelajaran yang diujikan dalam simulasi ini meliputi Bahasa Indonesia dan Matematika. Kedua subjek tersebut dipilih untuk mengukur kemampuan akademik siswa secara objektif.
Melalui simulasi ini, sekolah berharap para siswa dapat meningkatkan rasa percaya diri. Persiapan dini dianggap krusial agar peserta didik mampu menghadapi tantangan akademik di jenjang pendidikan selanjutnya.
Mengapa simulasi TKA itu penting dan atas dasar apa sekolah melaksanakannya?
1. Pemetaan Mutu Pendidikan Nasional
Rujukan utamanya adalah Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) tentang Evaluasi Sistem Pendidikan.
Dalam konteks tahun 2026, TKA diposisikan sebagai instrumen evaluasi standar nasional untuk memetakan capaian literasi dan numerasi siswa secara objektif di seluruh Indonesia.
2. Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
Sekolah melaksanakan simulasi ini berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang diatur dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Simulasi bertujuan memastikan bahwa sebelum siswa lulus, mereka telah mencapai ambang batas kemampuan akademik minimal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia (Literasi) dan Matematika (Numerasi).
3. Penguatan Rapor Pendidikan Sekolah
Data hasil TKA (dan simulasinya) merupakan input penting bagi Rapor Pendidikan. Sekolah dasar diwajibkan melakukan persiapan matang agar skor dalam Rapor Pendidikan sekolah tetap terjaga atau meningkat.
Simulasi berfungsi sebagai diagnostic assessment (penilaian diagnostik) untuk mengetahui kelemahan siswa sebelum ujian resmi dimulai.
4. Implementasi Kurikulum Merdeka (Fase C)
Dalam Kurikulum Merdeka, kelas 6 berada di akhir Fase C. Simulasi TKA menjadi rujukan bagi guru untuk mengukur apakah capaian pembelajaran selama satu fase (kelas 5 dan 6) telah tuntas.
Hal ini sesuai dengan prinsip asesmen sumatif yang bertujuan untuk mempertanggungjawabkan hasil belajar kepada masyarakat dan negara.
Mengapa Bahasa Indonesia dan Matematika?
Dalam konteks kebijakan pendidikan Indonesia modern (seperti ANBK atau TKA), dua subjek ini adalah pondasi:
Bahasa Indonesia: Bukan sekadar tata bahasa, melainkan kemampuan memahami teks kompleks (Literasi).
Matematika: Bukan sekadar berhitung, melainkan kemampuan logika dan pemecahan masalah (Numerasi).
Inilah alasan mengapa simulasi difokuskan pada dua mata pelajaran tersebut sebagai rujukan utama kemampuan akademik dasar.
Penulis : Aldy J
Editor : Fons Abun






