RUTENG — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai, Arlan Nala, mendesak pemerintah daerah segera memfokuskan distribusi bantuan darurat bagi penyintas gempa bumi magnitudo 7,7. Kebutuhan mendesak saat ini adalah sembako dan terpal.
“Saya minta pemda fokus ke bantuan darurat. Masyarakat kesulitan tempat pengungsian sekarang,” kata Arlan di Ruteng, Senin, 17 Agustus 2026.
Politikus Partai Demokrat itu menyebut rentetan gempa susulan masih terus terjadi. Kondisi tersebut membuat aktivitas sosial dan ekonomi warga lumpuh total karena dilanda kepanikan.
Di luar masalah logistik, sebelumnya, Arlan menyoroti lambatnya pendataan kerusakan. Ia menilai data sementara yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Ahad pagi, 16 Agustus 2026, belum mencerminkan fakta di lapangan.
Laporan awal BNPB mencatat hanya 346 unit rumah rusak pascagempa Sabtu, 15 Agustus 2026. Rinciannya meliputi 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan.
“Saya yakin jumlah ini jauh lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya. Keyakinan ini tentu berdasarkan fakta lapangan,” ujar Arlan.
Ia mencontohkan kondisi di Kecamatan Cibal Barat, tepatnya di Desa Golowoi, Desa Wae Codi, Desa Compang Cibal, Desa Lenda. Di wilayah tersebut, nyaris seluruh bangunan rumah warga hancur terdampak guncangan.
“Puluhan yang rusak parah, ratusan rusak sedang, sisanya rusak ringan. Hanya satu atau dua rumah saja yang tidak terdampak,” tuturnya.
Untuk mencegah kesimpangsiuran, Arlan meminta Pemda Manggarai proaktif menagih laporan resmi dari setiap kepala desa. Langkah jemput bola ini dinilai krusial untuk mempermudah validasi data.
Menurutnya, data yang akurat sangat dibutuhkan agar intervensi pemerintah pusat bisa dieksekusi dengan cepat dan tepat sasaran.
Terutama untuk memenuhi kebutuhan logistik dasar bagi ribuan warga di tenda pengungsian.
Dampak destruktif gempa ini sangat dirasakan oleh warga. Florianus Adi, warga asal Dusun Cekok, Desa Wae Codi, menceritakan detik-detik lindu mengguncang pada pukul 05.58 Wita.
Saat itu, ia tengah bersiap membangunkan anaknya untuk berangkat ke sekolah.
“Tiba-tiba guncangan keras datang hingga merusak semua bangunan rumah,” kata Florianus.
Meski seluruh anggota keluarganya selamat, Florianus kehilangan tempat tinggal yang kini rusak parah dan tak bisa lagi ditempati.
“Kerugian sangat besar sekali, bisa dibilang ratusan juta, karena rumah tak bisa digunakan lagi,” ucapnya.
Berdasarkan pantauan di Desa Wae Codi, ratusan rumah warga mengalami kerusakan struktural parah. Dinding rumah roboh dan retak, sementara beberapa bagian atap ambruk karena tak kuat menahan guncangan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





