Oleh: Diana Yelin Dalmin, Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, Program Studi Bahasa Inggris.
LABUAN BAJO — Ada kalimat terkenal dari filsuf Yunani kuno, Socrates: “Kenalilah dirimu sendiri”. Bagi saya, ini bukan sekadar nasihat bijak, melainkan kunci utama perjalanan hidup setiap manusia.
Setiap orang lahir dengan kelebihan dan kekurangan, dan saya pun demikian. Saya memandang diri sebagai pribadi yang senantiasa berusaha tumbuh menjadi lebih baik — sebuah pandangan yang selaras dengan pendapat psikolog terkenal Abraham Maslow, yang menyatakan bahwa keinginan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri adalah dorongan paling dasar dalam manusia.
Saya percaya proses belajar tidak terbatas di dalam kelas. Pengalaman hidup, lingkungan, dan tantangan harian justru menjadi guru yang paling nyata.
Pandangan ini diperkuat oleh pendapat Jean Piaget, bapak psikologi perkembangan, yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati terbentuk saat manusia berinteraksi langsung dengan lingkungan dan menghadapi masalah. Oleh karena itu, saya selalu berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian, karena di situlah kedewasaan dibangun.
Dalam bekerja, saya menjunjung tinggi tanggung jawab dan ketepatan waktu. Di sisi lain, saya menyukai kerja sama tim karena melalui kolaborasi gagasan menjadi lebih kaya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa kemampuan manusia berkembang paling pesat melalui interaksi sosial dan pertukaran pikiran.
Meski demikian, saya juga mampu bekerja mandiri — menunjukkan keseimbangan antara kemampuan sosial dan kemandirian yang dibutuhkan untuk bertahan di berbagai situasi.
Tentu saja, pengenalan diri juga berarti berani mengakui kelemahan. Saya terkadang kurang percaya diri berbicara di depan umum dan cenderung berhati‑hati dalam mengambil keputusan.
Namun, menurut teori Carol Dweck, ilmuwan yang memperkenalkan konsep Pola Pikir Tumbuh, kemampuan dan sifat seseorang bukanlah sifat tetap, melainkan hal yang bisa dilatih dan dikembangkan. Kekurangan yang saya miliki bukanlah batas akhir, melainkan peta yang menunjukkan ke mana saya harus belajar lebih keras.
Nilai seperti kejujuran, disiplin, dan pantang menyerah menjadi fondasi yang saya pegang. Ilmuwan fisika besar Albert Einstein pernah berkata: “Nilai seseorang tidak terletak pada apa yang ia ketahui, melainkan pada apa yang ia lakukan dengan pengetahuannya.” Hal ini menguatkan keyakinan saya bahwa kecerdasan saja tidak cukup tanpa karakter yang kuat dan sikap menghormati sesama.
Ke depannya, saya ingin menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan bermanfaat bagi orang lain. Saya sadar jalan menuju tujuan tidak mudah, namun seperti yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun, ilmuwan besar sejarah dan sosiologi: “Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan kemajuan tercapai melalui kerja keras dan kesatuan tujuan.”
Sebagai penutup, mengenal diri sendiri adalah langkah awal segala ilmu. Dengan memahami potensi dan ruang perbaikan, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi bagian yang membangun kemajuan masyarakat yang lebih luas.






