Politik Gagasan dan Keberanian Moral: Membaca Langkah Mario Pranda di Ruang Publik

- Redaksi

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mario Pranda, Mantan Calon Bupati Manggarai Barat Periode 2024-2029

Mario Pranda, Mantan Calon Bupati Manggarai Barat Periode 2024-2029

LABUAN BAJO Nama Christo Mario Y. Pranda kembali menjadi perhatian publik. Surat terbuka yang berisi seruan Moral, yang ia tujukan kepada YM Mgr. Maksimus Regus, Pr, kini berubah menjadi diskursus publik, memantik dukungan, kritik, perdebatan, pro-kontra di ruang sosial dan media digital.

Namun, di luar pro dan kontra itu, ada satu perspektif penting yang menarik untuk dibaca: perspektif politik

Dalam dunia politik, kemampuan terbesar seorang politisi bukan hanya memenangkan pemilu atau merebut jabatan. Kemampuan terbesar seorang politisi adalah menghadirkan gagasan ke ruang publik dan membuat masyarakat berbicara tentangnya.

Dan pada titik itu, Mario Pranda berhasil

Surat terbuka tersebut sukses menjadi perbincangan sosial yang hangat. Ia mengubah sesuatu yang sebelumnya dianggap urusan administratif menjadi percakapan publik tentang keluarga, kemanusiaan, moralitas, dan kekuasaan.

Inilah inti politik modern: siapa yang mampu menentukan apa yang dibicarakan publik, dialah yang sedang memainkan pengaruh politik.

Politik bukan semata soal kekuasaan, tetapi soal kemampuan membangun kesadaran kolektif. Banyak politisi hadir hanya saat kampanye, berbicara ketika mikrofon tersedia, lalu hilang ketika ruang publik membutuhkan gagasan. Namun ada juga politisi yang memilih hadir melalui ide, meskipun sadar bahwa ide itu akan mengundang risiko kritik.

Baca Juga:  Incar Untung Tiga Kali Lipat, Penyelundupan 1,7 Ton Minyak Tanah ke Bima Digagalkan Polres Mabar

Mario Pranda tampaknya memilih jalan kedua.

Tentu, kritik terhadap dirinya tidak bisa dihindari. Bahkan kritik itu muncul dari berbagai sudut: ada yang mempertanyakan substansi suratnya, ada yang menilai pendekatannya emosional, ada pula yang menganggap langkah itu sarat kepentingan politik.

Tetapi justru di situlah letak proses pendewasaan seorang politisi.

Politik yang sehat tidak melahirkan pemimpin yang anti kritik. Politik yang sehat melahirkan pemimpin yang ditempa oleh kritik. Sebab kekuasaan tanpa pengalaman dikritik sering kali melahirkan pemimpin yang arogan, tertutup, dan sulit mendengar suara rakyat.

Seorang calon pemimpin perlu mengalami fase dibantah, “disalahkan”, bahkan “diserang” di ruang publik. Dari situ ia belajar bahwa setiap keputusan publik selalu memiliki konsekuensi sosial. Dari situ pula ia belajar bahwa kebijakan bukan hanya soal benar atau salah menurut aturan, tetapi juga soal bagaimana manusia merasakan dampaknya.

Baca Juga:  Buntut Tenggelamnya KLM Putri Sakinah, Kapten dan KKM Segera Disidang

Dalam konteks itu, kritik terhadap Mario Pranda justru merupakan bagian penting dari proses politiknya sendiri.

Ada sebuah kutipan terkenal dari Winston Churchill:

“Politics is not a game. It is an earnest business.

Politik bukan permainan, melainkan urusan yang serius. Karena itu, gagasan yang dilempar ke ruang publik memang harus siap diuji, diperdebatkan, bahkan dipatahkan.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa hampir semua gagasan besar selalu lahir dari keberanian mengambil risiko untuk berbeda.

Ketika publik mulai berdiskusi, ketika masyarakat mulai memperdebatkan satu isu secara luas, sesungguhnya demokrasi sedang bekerja. Yang berbahaya bukanlah perdebatan, melainkan ketika ruang publik mati, ketika masyarakat berhenti berbicara, dan ketika kebijakan berjalan tanpa kritik.

Dalam perspektif ini, surat Mario Pranda sesungguhnya telah menghasilkan satu hal penting: ia menghidupkan ruang diskusi publik tentang kemanusiaan dalam birokrasi

Baca Juga:  Tak Cukup Bukti, Polda NTT Gugurkan Status Tersangka Kasus Lahan Nggoer Golo Mori

Bahwa orang setuju atau tidak setuju, itu perkara lain.

Sebab dalam politik demokratis, ukuran keberhasilan sebuah gagasan bukan hanya seberapa banyak orang mendukungnya, tetapi juga seberapa besar gagasan itu mampu menggerakkan kesadaran publik.

Politisi sejati bukan orang yang selalu disukai. Politisi sejati adalah mereka yang mampu membuat masyarakat berpikir.

Dan di tengah budaya politik yang sering kali miskin ide, keberanian melempar gagasan—meski kontroversial—kadang jauh lebih bernilai daripada sekadar diam demi aman.

Seperti kata John F. Kennedy:

“Conformity is the jailer of freedom and the enemy of growth.”

Karena itu, boleh jadi hari ini Mario Pranda sedang dikritik. Tetapi bisa juga, kritik-kritik itulah yang sedang membentuk ketajaman politiknya sebagai seorang calon pemimpin masa depan.

Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah bagian dari “Opini Redaksi” bajoupdate.com.

Berita Terkait

812 Kapal Wisata, Tetapi Di Mana Kontribusinya untuk Daerah ?
Cancel Culture in the Digital Era: Justice or Digital Mob?
Guru di SDK Toe Loha Itu Benar-benar Visioner

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:25

Politik Gagasan dan Keberanian Moral: Membaca Langkah Mario Pranda di Ruang Publik

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:00

812 Kapal Wisata, Tetapi Di Mana Kontribusinya untuk Daerah ?

Minggu, 15 Maret 2026 - 21:37

Cancel Culture in the Digital Era: Justice or Digital Mob?

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:21

Guru di SDK Toe Loha Itu Benar-benar Visioner

Berita Terbaru