Di Meja Kekuasaan Tidak Ada Cinta

- Redaksi

Sabtu, 21 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar —Ilustrasi AI

Gambar —Ilustrasi AI

Aroma euforia menyeruak di ruangan itu. Ratusan pegawai baru saja menggenggam Surat Keputusan pengangkatan pegawai tetap yang telah lama dinanti. Isak tangis bahagia membuncah, seolah alirannya lebih deras dari anak sungai. Penantian panjang akan kepastian status kepegawaian akhirnya bermuara pada lembaran kertas di tangan mereka. Riuh tepuk tangan dan kidung kebahagiaan bersahut-sahutan, mengiringi langkah seorang pria berpostur sedang, tidak terlalu tinggi, dengan kulit sawo matang.

Ia adalah Raja Songat, sang pemegang tampuk kekuasaan di daerah itu. Namun, kehadirannya tak membawa kehangatan. Tatapannya tajam dan dingin, tanpa sedikit pun lengkung senyum di wajahnya. Seolah-olah, ia kebal terhadap gelombang kebahagiaan yang tengah meruap di hadapannya.

Raja Songat melangkah mantap menuju podium. Suasana seketika beku saat ia mulai bicara. “Kerja yang benar. Jangan menjadi pembangkang. Siapa yang tidak menerima keputusan saya, maka status kepegawaiannya akan saya cabut saat itu juga,” tegasnya.

Kalimat itu bak palu godam yang menghantam sukacita di dalam forum. Seketika, hak untuk bahagia seakan tercerabut. Ratusan pegawai itu tertunduk, diam membisu. Di bawah tatapan sang Raja, mereka seperti berada dalam genggaman kemerdekaan yang semu.

“Jangan terlalu berharap gaji besar, daerah kita sedang defisit anggaran. Kerja saja. Di mana pun kalian ditempatkan, dilarang mengusul pindah. Kalian harus loyal pada keputusan atasan!” Raja Songat kembali menekan, membius kesadaran para bawahannya. Hingga ia menutup sambutan dan beranjak menuju kursi kebesaran yang telah disiapkan para pelayannya, ratusan pegawai itu tetap terpaku dalam kebuntuan.

Di sudut ruangan, Lanur berdiri dengan rahang mengeras. Ia baru dua tahun menanggalkan status mahasiswa. Semasa kuliah, ia adalah aktivis vokal yang kerap memobilisasi massa guna mengkritisi kebijakan yang timpang. “Bagaikan tak ada mimpi di negeri ini,” gumamnya getir. Naluri perlawanannya membara. Sambil meneguk air mineral, batinnya berontak, “Betapa tidak pentingnya pendidikan jika pikiran kita ditekan dan dibius seperti ini.”

Suasana semakin tegang saat Sekretaris Daerah mulai membacakan detail penempatan tugas. Sebuah orkestra absurditas dimulai. “Marta, Sarjana Keperawatan, bertugas sebagai Penyuluh Perikanan di Pulau Monyet. Imran, Sarjana Perikanan, bertugas sebagai Penyuluh Pertanian di Watu Pengang.”

Suara Sekretaris Daerah dan Kepala Bagian Kepegawaian bersahutan membacakan keputusan Raja yang terasa acak. Hingga tiba pada nama terakhir: “Lanur, Sarjana Pendidikan, bertugas sebagai teknisi dan operator pada Dinas Pertamanan dan Pemakaman Umum.”

Baca Juga:  Ourorah dan Agung Sene Resmi Rilis Single 'Saok', Padukan Alternatif Rock dan Rap

Keputusan itu mutlak. Setelah membacakan surat keputusan, sekretaris kembali duduk di samping sang Raja. Pemandu acara kemudian mempersilakan para pegawai untuk berfoto bersama keluarga di panggung yang telah disediakan.

Hiruk-pikuk pun pecah. Di tengah sesi foto, Imran memberanikan diri mendekati sang Raja. Dengan suara gemetar, ia berbisik, “Hormat Paduka Raja. Mohon izin, saya ditugaskan sebagai penyuluh pertanian, sementara latar belakang saya adalah Sarjana Perikanan. Mungkin saya bisa bertukar posisi dengan Ibu Marta yang ditempatkan di Pulau Monyet sebagai penyuluh perikanan.”

Jawaban Raja Songat melesat jauh dari harapan. “Kalau tidak mau bekerja, silakan mengundurkan diri! Kamu pikir cari kerja itu gampang? Saya yang berkuasa di sini, ikuti kata saya!” bentaknya.

Lanur, sang aktivis, mendengar bentakan itu. Darahnya mendidih. Namun, di saat yang sama, ia dihadapkan pada realitas pahit. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sandaran hidup keluarganya. Ibunya sudah menua, ayahnya telah lama tiada, dan kedua adiknya masih duduk di bangku SMA. Hatinya berkecamuk hebat; maju terluka, mundur pun hancur.

Dalam diam, ia memejamkan mata dan menggugat dalam batin, “Tuhan, beginikah Engkau merencanakan nasib ratusan manusia ini? Hadir di dunia hanya untuk takluk pada kekuasaan seorang Raja? Di mata mereka, kekuasaan manusia ini seolah mengalahkan kekuasaan-Mu.”

Sesi foto berlanjut. Kini giliran Marta, ibu paruh baya itu, mendekat dengan wajah memelas. “Yang Mulia, saya ini ibu dari empat anak. Yang sulung sedang kuliah, sisanya masih SMA, SMP, dan yang bungsu masih SD. Suami saya hanya guru honorer dengan gaji tiga ratus ribu per bulan di bagian selatan daerah ini. Mungkin penempatan ini bisa dipertimbangkan lagi, Pak…” ucap Marta, berharap ada setitik cinta di meja kekuasaan.

“Kalian ini apa-apaan? Datang satu minta pindah, datang lagi satu minta pindah!” Suara Raja meledak. Matanya memerah, bibirnya bergetar menahan amarah yang meluap. “Siapa yang tidak terima keputusan ini, silakan temui saya di ruangan!”

Raja Songat melangkah kasar meninggalkan ruangan menuju ruang kerjanya. “Pak Sekretaris, lanjutkan agendanya. Setelah itu bubar!” ketusnya.

Situasi itu hampir menyulut Lanur untuk meledak. Bagi seorang aktivis jalanan, momen tersebut bisa saja menjadi ajang adu fisik. Namun, Lanur tetap bertahan dalam sikapnya yang misterius.

Baca Juga:  Paradise Bar Genap 22 Tahun, Maksimus Magur: Kami Hadirkan Ipang Lazuardi untuk Pengalaman Berbeda

Di tengah ketegangan itu, muncul Lani, adik tingkat Lanur semasa kuliah. Lani mengenal betul reputasi Lanur sebagai singa podium. Ia melangkah anggun, membawa kesejukan di tengah bara hati Lanur.

“Kak Lanur… sudah lupa ya sama aku?” sapa Lani dengan suara lembut.
Lanur menoleh, mencoba meredam amarahnya. “Mana mungkin aku lupa, Lani. Puisi ‘Cinta dalam Diam’ yang kamu tulis dulu masih melekat di ingatanku,” jawab Lanur, sejenak melupakan keangkuhan sang Raja.

Keduanya larut dalam percakapan. Mereka bicara tentang ketegangan hari itu, tentang penantian pegawai yang berujung kekecewaan, hingga tentang film The Making of the Mahatma—kisah perjuangan Mahatma Gandhi dengan filosofi non-kekerasannya. Kehadiran Lani benar-benar menjadi pengalih perhatian dari sikap despotik Raja Songat.

Tak lama, Sekretaris Daerah menutup acara. “Bapak-Ibu sekalian, pertemuan telah selesai. Selamat bertugas. Bagi yang keberatan, silakan mengundurkan diri atau menghadap Raja secara pribadi.”

Satu per satu pegawai meninggalkan ruangan. Ada yang pulang dengan tawa, namun tak sedikit yang melangkah lunglai karena harus terpisah dari keluarga. Lanur dan Lani masih bertahan, menyaksikan rekan-rekan mereka mengantre di lorong menuju ruang kerja Raja. Lanur tak tega melihat Ibu Marta yang tak henti mengucurkan air mata.

Marta membayangkan jarak yang akan memisahkannya dari anak-anak yang masih kecil. Ia tak peduli lagi pada harga dirinya yang diinjak-injak oleh kemarahan Raja. Ia hanya berharap ada secuil empati.

Lani dan Lanur menghampiri Marta. “Ibu… yang kuat ya,” bisik Lani sambil merangkul bahu wanita itu. “Dek, anakku masih SD. Gaji suamiku tak akan cukup jika aku melepaskan pekerjaan ini,” isak Marta.

Mendengar itu, Lanur tak bisa lagi tinggal diam. “Ayo, kita hadapi Raja sekarang!” ajaknya kepada Imran dan pegawai lainnya yang tengah meratapi nasib.

“Aku setuju, tapi mari kita bangun dialog yang tenang. Jangan anarkis,” timpal Lani, mencoba meredam api dalam diri Lanur.

Mereka melangkah menuju ruang kerja Raja, memadati lorong. “Hormat, Paduka Raja,” sapa Lanur.

“Ada apa lagi? Semuanya sudah selesai! Pulang!” bentak Raja.

“Mohon maaf Yang Mulia, kami minta waktunya sebentar untuk menyampaikan sesuatu,” sahut Lani berusaha sopan.

“Saya tidak ada waktu! Keluar!” Raja menggebrak meja.

Baca Juga:  Raibkan Rp85 Juta Milik Turis, Pemilik Biro Perjalanan Labuan Bajo Terancam 4 Tahun Penjara

“Bos… kekuasaan itu ada batasnya, jangan sombong. Kami punya hak untuk diperlakukan adil. Daerah ini bukan milik Anda sendiri. Ingat itu!” tantang Lanur dengan suara lantang.

Praaaakkk! Meja kembali digebrak. “Anda siapa mengatur saya? Pengawal! Usir mereka semua! Sialan!” teriak Raja.

Aksi saling dorong dengan pengawal tak terhindarkan. “Hei pengawal, kalau berani satu lawan satu!” tantang Lanur yang mulai gelap mata. Di tengah kekacauan itu, Lani berbisik di telinga Lanur, “Ingat kata Mahatma Gandhi, taklukkanlah musuhmu dengan cinta.”

Bisikan itu bak tetesan air di atas bara. Lanur perlahan mengendurkan urat syarafnya. “Tolong semuanya tenang. Pak Pengawal, kami akan tertib. Mohon hormati kami juga,” ujar Lani menenangkan suasana. Ia kembali menatap sang Raja. “Paduka, kami menghormati Anda. Kami memohon, khusus untuk Ibu Marta, bukakanlah pintu kasih dalam keputusan ini.”

“Barang siapa yang tidak setuju, silakan keluar dan tanggalkan status pegawainya! Tidak ada kasihan, saya tidak peduli!” tegas Raja tanpa kompromi. “Dasar kekuasaan feodal! Sejarah akan mencatat rezim ini sebagai yang paling tidak manusiawi!” tutup Lanur tajam.

Akhirnya, mereka diusir paksa oleh para pengawal. Harapan Ibu Marta kandas bersama air matanya yang terus mengalir. Lani menatap wajah Lanur yang masih memerah akibat gesekan fisik dengan pengawal. Dengan suara lembut namun tegas, ia berkata, “Di meja kekuasaan, memang tidak ada cinta.”

Satu per satu pegawai pulang dengan beban di pundak. Lanur, dengan berat hati, terpaksa melipat idealismenya demi kelangsungan hidup keluarganya. Lani tetap berdiri di sampingnya, setia seperti masa-masa pergerakan mahasiswa dulu.

Sore mulai temaram di istana kerajaan itu. Saat menuju parkiran, Lanur meraih tangan Lani dan menggenggamnya erat. Lani menoleh, tersenyum tersipu. “Iya, Lani… di meja kekuasaan memang tidak ada cinta. Tetapi di hatiku, ada cinta yang besar untukmu.”

Lanur menarik Lani ke dalam pelukannya. Di bawah langit senja, ia membisikkan kembali larik puisi yang pernah ditulis Lani:

“Kamu yang misterius, Parasmu menawan nan rupawan Jujur aku mencintaimu
Meski dalam diam kuucap pada alam.”

Larik-larik itu mengalun di antara sisa-sisa perjuangan dan kerasnya tembok kekuasaan yang baru saja mereka hadapi.

Catatan: Artikel Cerpen ini ditulis oleh Bonafasius Yosdan, alumni UNIPA Surabaya

Penulis : Bofas

Editor : Fons Abun

Berita Terkait

Ourorah dan Agung Sene Resmi Rilis Single ‘Saok’, Padukan Alternatif Rock dan Rap
Raibkan Rp85 Juta Milik Turis, Pemilik Biro Perjalanan Labuan Bajo Terancam 4 Tahun Penjara
Paradise Bar Genap 22 Tahun, Maksimus Magur: Kami Hadirkan Ipang Lazuardi untuk Pengalaman Berbeda

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 11:29

Ourorah dan Agung Sene Resmi Rilis Single ‘Saok’, Padukan Alternatif Rock dan Rap

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:33

Raibkan Rp85 Juta Milik Turis, Pemilik Biro Perjalanan Labuan Bajo Terancam 4 Tahun Penjara

Jumat, 1 Mei 2026 - 20:31

Paradise Bar Genap 22 Tahun, Maksimus Magur: Kami Hadirkan Ipang Lazuardi untuk Pengalaman Berbeda

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:59

Di Meja Kekuasaan Tidak Ada Cinta

Berita Terbaru

Saat relawan mengunjungi rumah Salmawati
di Dusun Nanga Na'e, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat,  Kabupaten Manggarai Senin 18 Mei 2026. Mereka membawa bantuan sembako.

Suara Warga

Saat Solidaritas Membasuh Luka Keluarga Aco di Manggarai

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:39