Pelaku Wisata Labuan Bajo Nyaris Rugi Rp 19 Juta Akibat Ulah Sebelas Turis Asing

- Redaksi

Selasa, 22 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO — Suasana sejumlah kapal wisata yang tengah berlabuh di Perairan Labuan Bako.

FOTO — Suasana sejumlah kapal wisata yang tengah berlabuh di Perairan Labuan Bako.

LABUAN BAJOSebelas turis asing di Labuan Bajo sempat menolak melunasi sisa pembayaran paket wisata ke Taman Nasional (TN) Komodo sebesar Rp 19 juta. Penolakan itu terjadi seusai mereka menuntaskan perjalanan wisata satu hari penuh pada Senin, 21 September 2026.

Turis yang masing-masing berkewarganegaraan Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, dan Filipina itu beralasan fasilitas tidak memadai dan air laut surut.

Ferdinand, pelaku wisata dari sebuah agen perjalanan di Labuan Bajo mengatakan para turis itu sebelumnya hanya membayar uang muka sebesar 1 juta rupiah. “Mereka baru bayar 1 juta, belum bayar 19 juta,” kata Ferdinand Senin malam di Polres Manggarai Barat.

Ferdinand menjelaskan, rombongan wisatawan tersebut menyewa kapal cepat (speedboat) untuk mengunjungi sejumlah titik wisata di TN Komodo dan sekitarnya.

Baca Juga:  Carrying Capacity TNK Dipertanyakan, DPRD Mabar: Kebijakan Kok Lentur?

Mereka berangkat pada pagi hari dan mengunjungi Pulau Padar, Long Pink Beach, Manta Point, dan Pulau Kelor.

Bahkan, kata Ferdinand, permintaan tambahan di luar jadwal untuk mengunjungi Pulau Mawan di dalam kawasan TN Komodo juga dipenuhi oleh pihak agen.

Namun, setiba di pelabuhan Labuan Bajo pada sore harinya, mereka menolak melunasi sisa tagihan dengan dalih yang dinilai mengada-ada.

“Alasannya speedboat kecil, AC tidak tidak terlalu dingin, makannya di kapal, dan air laut surut,” ungkap Ferdinand.

Ferdinand menegaskan, ukuran kapal beserta harganya sudah disepakati sejak awal sebelum mereka membayar uang muka sebesar Rp 1 juta.

Pihak agen telah menawarkan berbagai pilihan ukuran kapal yang disesuaikan dengan harga. Wisatawan tersebut memilih kapal kecil dengan harga paket Rp 20 juta.

Baca Juga:  BPOLBF Perkenalkan Model Desa Wisata Berkelanjutan Flores di Meru Eco Tourism Week

Harga tersebut, kata dia, sudah mencakup fasilitas makan siang dan layanan antar-jemput dari hotel ke pelabuhan.

“Mereka bilang apakah harga itu termasuk lunch (makan siang), saya bilang itu termasuk. Mereka kemudian minta nomor rekening dan kirim DP Rp 1 juta,” jelas Ferdinand.

Ferdinand menuturkan, ia biasanya mewajibkan wisatawan membayar lunas sebelum perjalanan dimulai.

Namun, karena rombongan itu tampak kelelahan saat tiba di pelabuhan pada pagi hari, ia tidak langsung menagih pelunasan.

Nahasnya, toleransi itu justru dimanfaatkan. Turis tersebut malah mengajukan syarat yang merugikan pihak kapal jika ingin tagihannya dibayar lunas.

“Mereka minta kompensasi diantar lagi ke pulau (besoknya)” ungkap Ferdinand.

Baca Juga:  Wings Air Hubungkan Makassar dan Labuan Bajo, Ini Jadwalnya

Lantaran tidak ada titik temu, Ferdinand yang didampingi pemandu wisata dan pihak kapal langsung melaporkan rombongan tersebut ke Polres Manggarai Barat.

Polisi segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan mendatangi vila tempat para turis itu menginap pada Senin malam.

Namun, aparat tidak bisa langsung menemui mereka karena alasan dari manajer vila bahwa para tamu sedang beristirahat.

Polisi dan pihak vila sepakat untuk menyelesaikan persoalan tersebut pada keesokan paginya. Langkah tegas pelaporan ke polisi akhirnya membuahkan hasil. Pada Selasa pagi, 22 September 2026, sisa tagihan tersebut akhirnya dibayar oleh para turis.

“Tadi pagi mereka mengirim pesan WhatsApp dan memberitahukan uangnya sudah dibayar disertakan bukti transfer,” pungkas Ferdinand.

Penulis : Fons Abun

Editor : Tim Bajoupdate

Berita Terkait

Famtrip BPOLBF x Scoot: Upaya Kembalikan Citra Pariwisata Flores Pascabencana
Separuh Honor Konser Wizz Baker di Parapuar Disumbangkan untuk Korban Gempa Flores
Cara BPOLBF Pulihkan Wisata Labuan Bajo Usai Gempa Flores
Mimpi Besar Petani Muda Labuan Bajo di Tengah Minimnya Alat Pertanian
Pascagempa Flores, Menpar Widiyanti Pastikan Wisata Labuan Bajo Beroperasi Normal
Jaga Kepercayaan Turis Usai Gempa, BPOLBF Terapkan “Ready Before Promote”
BKH Pimpin Penyaluran Bantuan Demokrat untuk Korban Gempa Flores
Polisi Cari Itok Aman, Usai Menipu Wisatawan Italia di Labuan Bajo hingga Telantar

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 09:15

Pelaku Wisata Labuan Bajo Nyaris Rugi Rp 19 Juta Akibat Ulah Sebelas Turis Asing

Senin, 21 September 2026 - 19:32

Famtrip BPOLBF x Scoot: Upaya Kembalikan Citra Pariwisata Flores Pascabencana

Minggu, 20 September 2026 - 19:47

Separuh Honor Konser Wizz Baker di Parapuar Disumbangkan untuk Korban Gempa Flores

Minggu, 20 September 2026 - 18:37

Cara BPOLBF Pulihkan Wisata Labuan Bajo Usai Gempa Flores

Minggu, 6 September 2026 - 18:04

Mimpi Besar Petani Muda Labuan Bajo di Tengah Minimnya Alat Pertanian

Berita Terbaru

Ada 17 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang difasilitasi dalam event Picnic Over The Hill of Parapuar, Sabtu (19/9/2026) malam.

Pariwisata

Cara BPOLBF Pulihkan Wisata Labuan Bajo Usai Gempa Flores

Minggu, 20 Sep 2026 - 18:37