RUTENG — Ratusan rumah di Desa Wae Codi, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, luluh lantak akibat guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Nagekeo pada Sabtu (15/8) pagi.
Guncangan dahsyat yang terjadi pada pukul 05.58 WITA itu menyebabkan kerusakan struktural masif di kawasan tersebut.
Dinding-dinding rumah warga roboh dan retak parah, sedangkan sejumlah atap ambruk karena tak kuat menahan guncangan.
Kepanikan massal sempat terjadi pada Sabtu pagi. Warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri saat bangunan mulai runtuh.
Kepala Desa Wae Codi, Bonefasius Sel, menyatakan proses penyisiran dan pendataan kerusakan masih terus berlangsung hingga Minggu (16/8) sore.
“Rumah yang rusak berat 20 unit, ini diperkirakan akan bertambah apabila gempa susulan masih terus berlanjut. Sedangkan rusak sedang 130 unit dan rusak ringan 200 unit,” kata Bonefasius kepada bajoupdate.
Selain merusak ratusan tempat tinggal, gempa juga memicu tanah longsor di kawasan Persawahan Temberas-Nuling yang berada di wilayah Wae Codi.
Bencana susulan ini menimbulkan kerugian materiel bagi para petani setempat. Sebanyak 10 karung gabah hilang dan tanaman padi yang baru mulai berbunga habis tertimbun material tanah.
Bonefasius memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, krisis pasca-bencana kini menghantui warganya.
“Masyarakat Wae Codi sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak. Fasilitas penerangan adalah salah satu yang paling kami butuhkan saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, data kerusakan bangunan rumah tersebut masih bersifat sementara.
Selain Wae Codi, dampak destruktif gempa Nagekeo juga menerjang tiga wilayah lain di Kecamatan Cibal Barat, yakni Desa Compang Cibal, Desa Golowoi dan Desa Lenda.
Kondisi di Desa Compang Cibal tak kalah memprihatinkan. Gempa tercatat meruntuhkan puluhan tempat tinggal warga yang bermukim di kawasan perbukitan.
Guncangan tersebut juga memicu pergerakan tanah di sejumlah titik tebing. Material longsoran bahkan sempat memutus total akses jalan penghubung antardesa, yang membuat mobilitas warga tersendat.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





