LABUAN BAJO — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama sejumlah lembaga menyalurkan bantuan logistik untuk korban gempa Flores di wilayah pesisir utara pada Rabu (19/08).
Bantuan berupa beras, air minum kemasan, dan makanan siap saji tersebut diberangkatkan langsung dari Dermaga Maria, Labuan Bajo.
Fokus distribusi tahap awal ini difokuskan pada desa-desa dan pulau-pulau di pesisir utara Manggarai Barat yang terdampak guncangan gempa.
Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, yang memimpin langsung pelepasan armada mengatakan wilayah utara menjadi target utama sebelum bantuan menyusul ke area lain.
“Ini menjadi prioritas, sedangkan pulau-pulau lain sedang dalam proses penyiapan,” kata Edistasius kepada wartawan saat melepas armada logistik.
Secara total, lebih dari delapan ton beras disebar ke lima titik berbeda menggunakan kombinasi jalur darat dan laut.
Pulau Seraya, Pulau Boleng, dan Pulau Medang masing-masing menerima 1,5 ton beras yang diangkut menggunakan armada milik Polair, Lanal Labuan Bajo, dan KSOP.
Sementara itu, Desa Rangko menerima pasokan 1,5 ton beras melalui jalur darat menggunakan kendaraan dinas Pemkab Manggarai Barat. Alokasi terbesar diberikan kepada Pulau Longos, yakni sebanyak 2,1 ton beras.
Namun, pengiriman bantuan ke wilayah kepulauan ini tidak berjalan mudah. Tim gabungan harus berhadapan dengan cuaca dan kondisi alam.
Saat menuju Pulau Longos, kapal cepat atau speedboat pengangkut bantuan tidak bisa bersandar di dermaga desa karena air laut sedang surut dan perairan terlalu dangkal.
Di saat bersamaan, ombak yang cukup tinggi menyulitkan armada untuk bermanuver lebih jauh.
Tim akhirnya berkoordinasi dengan warga setempat. Mereka terpaksa memindahkan berton-ton logistik dari kapal cepat ke perahu kayu terbuka (open deck) milik nelayan di tengah laut agar bantuan bisa merapat ke daratan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy M.T.
Marpaung, menyebut insiden di Pulau Longos adalah bukti bahwa distribusi di wilayah kepulauan menuntut adaptasi lapangan yang tinggi.
“Kondisi wilayah kepulauan tentu memiliki tantangan tersendiri, sehingga proses distribusi membutuhkan kolaborasi, koordinasi, dan kesiapan untuk menyesuaikan strategi,” ujar Andhy.
Andhy menambahkan, BPOLBF berkomitmen mendukung penuh langkah cepat pemerintah daerah.
Ia memastikan kolaborasi lintas sektor akan terus dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat terlayani.
Operasi penyaluran bantuan ini melibatkan tim gabungan dalam skala besar.
Selain Pemkab dan BPOLBF, unsur yang terlibat meliputi TNI/Polri, Basarnas, Taman Nasional Komodo (TNK), Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), hingga Imigrasi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajo Update





