LABUAN BAJO — Nicolas Pinoteli resmi terpilih sebagai Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Labuan Bajo Sanctus Fransiskus Asisi periode 2026–2027. Ia ditetapkan sebagai Mandataris sekaligus Formatur Tunggal dalam Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) yang digelar di Aula Gedung Pramuka SMIP Labuan Bajo pada 13–14 Oktober 2026.
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik eLBajo Commodus itu berhasil meraup suara terbanyak, menyisihkan dua kandidat lainnya, yakni Etri Jeni dan Igen Raho. Nicolas akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari ketua presidium demisioner, Fransiska Heldiana Juita.
Usai penetapan tersebut, Nicolas memaparkan arah gerak organisasinya. Ia menegaskan, kepemimpinannya akan berfokus pada penguatan kaderisasi, konsolidasi internal, dan penguatan fungsi kontrol sosial PMKRI di tengah pusaran pembangunan daerah.
Fokus utama yang disoroti Nicolas adalah wajah pariwisata Labuan Bajo yang kini berstatus sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) nasional. Ia menilai, tolok ukur kemajuan pariwisata tidak boleh direduksi sekadar pada angka kunjungan wisatawan, gemerlap infrastruktur, dan laju investasi.
Menurut dia, pembangunan pariwisata wajib diuji dari seberapa besar masyarakat lokal mendapat porsi manfaat ekonomi, akses lapangan kerja, dan ruang untuk mempertahankan identitas budaya serta ekologi.
“Kaum intelektual muda perlu mengambil bagian melalui kajian, advokasi, dialog dengan pemerintah dan pelaku usaha, serta keterlibatan langsung dalam menjawab persoalan masyarakat,” kata Nicolas di Labuan Bajo, Kamis, 15 Oktober 2026.
Sebagai organisasi yang menyandang nama pelindung Sanctus Fransiskus Asisi, Nicolas menyebut PMKRI Cabang Labuan Bajo memiliki landasan moral yang jelas. Spiritualitas Fransiskus Asisi—kesederhanaan, persaudaraan universal, pembelaan terhadap kaum papa, dan penghormatan ekologi—dinilai sangat relevan dengan kondisi Manggarai Barat hari ini.
“Pariwisata tidak semestinya hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga perlu menempatkan kelestarian lingkungan, martabat manusia, dan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan,” ujarnya menegaskan.
Pria kelahiran Labuan Bajo ini berharap spirit tersebut dapat memandu kader PMKRI untuk mewujudkan pariwisata yang manusiawi, ramah lingkungan, dan inklusif. Ia menargetkan PMKRI tidak hanya sibuk di ruang-ruang internal, melainkan turun langsung ke akar rumput mengawal kebijakan publik.
Nicolas sendiri memiliki rekam jejak pendidikan yang panjang. Lulusan SDI Wae Mata dan SMP Negeri Pacar ini pernah mengenyam pendidikan di Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo.
Ia bahkan sempat menjalani masa novisiat di Biara Xaverian, Bintaro, Jakarta, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan melanjutkan studi Akuntansi Terapan di Politeknik eLBajo Commodus.
Kombinasi pendidikan sekuler dan formasi religius ini menjadi modal dasarnya dalam memimpin PMKRI Labuan Bajo ke depan.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate






