LABUAN BAJO — Calon Kepala Desa (Cakades) Golo Mori nomor urut 1, Sukarman, menggelar kampanye di Kampung Jarak, Rabu (23/9/2026). Di hadapan lebih dari 400 simpatisan, kampanye ini membedah rekam jejak birokrasi, tata kelola pemerintahan, hingga strategi menaikkan status Golo Mori menjadi Desa Mandiri.
Hilarius S Yance D, perwakilan warga Nggoer, membuka kampanye dengan menyoroti esensi kompetisi politik. Ia menegaskan, politik harus membawa kebahagiaan tanpa mencederai kerukunan warga.
“Semua orang berbahagia untuk berkompetisi, untuk menyampaikan visi misi serta untuk memajukan desa. Itu adalah inti sari dari politik yang sedang kita jalani saat ini,” tegas Hilarius dalam orasinya.
Terkait pariwisata Golo Mori, ia menagih visi Sukarman agar senantiasa bersandar pada asas lestari, makmur, dan berdaya saing. Ia memperingatkan agar pembangunan tidak sampai mengorbankan alam.
“Dosa terbesar kita adalah mewariskan alam yang rusak bagi generasi yang akan datang. Nanti anak cucu kita akan protes kepada kita,” ujarnya.
Menyitir kelakar mendiang Gus Dur soal integritas pemimpin, Hilarius mengingatkan agar urusan politik tidak merusak tatanan sosial.
“Politik harus berhenti pada dimensi-dimensi yang dapat diukur dalam ilmu politik. Jangan sampai keakraban, kekerabatan, dan dinamika sosial budaya rusak karena politik,” tambahnya.
Sementara itu, Ekin, orator dari Kampung Tao, membongkar rekam jejak teknis Sukarman dalam birokrasi. Ia menyebut Sukarman memiliki pengalaman riil lantaran pernah menjadi Ketua Tim Perumus RPJMDes Golo Mori dan Ketua Tim RKPDes 2025.
“Siapa ketua tim penyusunnya? Adalah Sukar. Jadi kalau ada kepala desa di desa lain yang menang, dia harus belajar banyak dulu untuk menyusun RPJMDes ini selama dua tahun,” papar Ekin.
Bekal teknis dan keilmuan magister itu dinilai Ekin sangat krusial. Tujuannya tak lain untuk mengerek status Golo Mori yang saat ini merupakan Desa Maju agar segera mencapai level Desa Mandiri.
“Bagaimana kemudian desa ini mampu mendapatkan uang, mampu mengembangkan aset-aset untuk dikembangkan sehingga pendapatan asli Desa Golo Mori bisa melonjak tanpa mengharapkan dari APBN,” tegasnya.
Merespons tingginya ekspektasi pendukung, Sukarman menitikberatkan orasinya pada persatuan. Ia menyebut Golo Mori sebagai “Rumah Besar” yang fondasi kekeluargaannya pantang retak akibat kontestasi sesaat.
“Di atas politik itu ada yang namanya keluarga. Jangan gara-gara politik kita lepas kebersamaan,” kata Sukarman di hadapan ratusan warga.
Dalam tawaran kebijakannya, Sukarman membidik pemuda sebagai mesin penggerak desa. Ia berjanji akan menghidupkan kembali Karang Taruna yang selama ini mati suri untuk mengelola potensi wisata super prioritas.
“Bagaimana ruang untuk generasi muda kita buka selebar-lebarnya melalui konsep yang namanya Karang Taruna. Karang Taruna itu adalah wadah yang harus difasilitasi oleh pemerintah desa,” tuturnya.
Meski pariwisata didorong maju, Sukarman menegaskan sektor pertanian, nelayan, dan UMKM tetap menjadi prioritas pemberdayaan. Urat nadi ekonomi warga lokal tidak boleh tercerabut dari akarnya.
“Kita lahir, hidup, dan mati sebagai petani. Hal ini tidak boleh kita ingkari bahwa petani itu adalah bagian daripada denyut nadi kehidupan di situ,” tegas Sukarman.
Sukarman juga menawarkan pendekatan restorative justice berbasis kearifan lokal. Ia berkomitmen memprioritaskan penyelesaian sengketa warga melalui musyawarah, alih-alih langsung menyeret warga ke polisi.
“Tidak semerta-merta ada persoalan langsung dibawa ke ranah hukum. Kita berdiskusi melalui lonto leok bersama tu’a golo. Setidaknya dari persoalan yang ada, 40-50 persen bisa kita selesaikan secara kekeluargaan,” imbuhnya.
Kampanye tatap muka ini dihadiri oleh utusan perwakilan dari sejumlah anak kampung. Massa mengalir dari Lenteng Jarak, Lo’ok, Soknar, Nggoer, Ra’ong, Tao, hingga Compang.
Sukarman sendiri adalah kandidat dengan rekam jejak akademis dan pergerakan yang kental. Ia menyelesaikan studi S1 Pendidikan Sosiologi di STKIP Bima pada tahun 2017.
Pendidikan kepemerintahannya dipertajam dengan meraih gelar S2 Magister Administrasi Publik (M.A.P) dari Universitas Islam Malang (UNISMA). Semasa mahasiswa, ia juga digembleng dalam dunia aktivisme dan tercatat aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Bima.
Meski mengantongi gelar master administrasi publik, Sukarman mengaku kepemimpinannya nanti akan tetap bertumpu pada kolaborasi lintas generasi.
“Maju gaku (majunya saya) ini bukan berarti saya mau mengandalkan sekolahku. Saya mau mengkolaborasikan apa yang saya dapat dengan pengalaman yang dimiliki oleh para tetua,” pungkasnya.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate





