LABUAN BAJO — Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, memasuki fase krusial. Calon Kepala Desa nomor urut 1, Sukarman, M.A.P menggelar kampanye akbar di Kampung Jarak yang dihadiri lebih dari 400 simpatisan pada Rabu (23/9/2026).
Kampanye ini menjadi ajang bagi Sukarman untuk memaparkan cetak biru pemerintahannya. Ia membawa gagasan transformasi Golo Mori menuju status Desa Mandiri.
Dalam orasinya, Sukarman berjanji akan menghidupkan kembali Karang Taruna yang selama ini mati suri. Wadah pemuda itu akan dijadikan motor penggerak ekonomi desa di sektor pariwisata, UMKM, olahraga, hingga seni budaya.
Golo Mori saat ini telah berstatus sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Bagi Sukarman, penetapan dari pemerintah pusat tersebut adalah peluang ekonomi yang tidak boleh sekadar menjadikan warga lokal sebagai penonton.
“Ruang untuk generasi muda harus dibuka selebar-lebarnya. Karang Taruna adalah wadah yang harus difasilitasi oleh pemerintah desa untuk mengelola potensi wisata,” ujar pria bergelar Magister Administrasi Publik tersebut.


Meski menjanjikan pengembangan pariwisata modern, Sukarman menolak abai pada sektor fundamental.
Ia menegaskan bahwa mayoritas urat nadi masyarakat Golo Mori tetaplah berada di sektor pertanian dan perikanan kelautan.
“Kita lahir, hidup, dan mati sebagai petani. Ini adalah denyut nadi kehidupan yang tidak boleh diabaikan, meski pariwisata kita sedang maju,” tegasnya di hadapan ratusan pendukung.
Sukarman juga memaparkan visi hukum dan sosialnya. Ia mendorong penyelesaian konflik warga melalui pendekatan budaya dan hukum adat Lonto Leok.
Alih-alih langsung membawa perkara ke ranah hukum positif, ia ingin agar musyawarah mufakat bersama tetua adat (Tu’a Golo) dikedepankan.
Ia meyakini hampir separuh permasalahan sosial di desa bisa diredam lewat asas kekeluargaan.
Menjelang hari pemungutan suara yang dijadwalkan pada 29 September mendatang, Sukarman mengingatkan warga tentang bahaya polarisasi. Ia menganalogikan Golo Mori sebagai “rumah besar” yang tak boleh runtuh hanya karena perbedaan pilihan politik.
Dukungan terhadap Sukarman mengalir dari berbagai wilayah. Kampanye hari itu dihadiri perwakilan dari tujuh anak kampung, meliputi Lenteng Jarak, Lo’ok, Soknar, Nggoer, Ra’ong, Tao, dan Compang.
Ekin, orator politik asal Kampung Tao, menyoroti rekam jejak pengalaman Sukarman. Ia menilai kapasitas akademik S2 pemerintahan yang dimiliki sang calon amat relevan untuk memimpin desa.
Lebih jauh, Ekin memaparkan bahwa Sukarman bukanlah orang baru di balik meja pemerintahan Golo Mori. Sukarman pernah menjadi Ketua Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan RKPDes tahun 2025 di era kepemimpinan Kades sebelumnya.
“Sebelum menjadi calon, beliau sudah belajar ilmu pemerintahan secara formal dan mempraktikkannya dengan menyusun dokumen RPJMDes. Gelarnya sangat tepat untuk memimpin roda desa,” kata Ekin.
Sementara itu, Hilarius S Yance D, orator perwakilan warga Nggoer, menggarisbawahi pentingnya harmoni antara alam dan kemajuan pariwisata.
Ia mengingatkan asas kelestarian lingkungan agar alam Golo Mori tetap bisa diwariskan ke generasi mendatang.
Mengutip filosofi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Hilarius juga menekankan bahwa integritas adalah harga mati bagi seorang pemimpin.
“Politik harus membuat orang bahagia. Dukungan ini harus membuat kita bergandengan tangan, berkolaborasi membangun Golo Mori seperti yang kita inginkan,” kata Hilarius.
Penulis : Fons Abun
Editor : Tim Bajoupdate






